#CeritaIbu: Suka Duka Menaikkan Berat Badan Anak

#CeritaIbu: Suka Duka Menaikkan Berat Badan Anak

Saat saya menulis tulisan ini, hampir satu tahun program kenaikan berat badan Aqsa dilakukan. Saya ingat betul, pergi ke dokter pada Bulan April tahun lalu dengan permasalahan BB Aqsa yang stuck beberapa bulan. Apalagi BB-nya saat itu sudah di bawah garis merah.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Jatuh Bangun Meningkatkan Berat Badan Anak

Sekarang, BB Aqsa sudah naik 3 kg dalam setahun. Kenaikan ini sudah lebih dari target kami sebagai orang tuanya dan dokter yaitu 2 kg (kenaikan BB wajar anak di atas 1 tahun). Tapi tentunya kenaikan BB di atas target hingga saat ini nggak terjadi dengan mudah. Pergolakannya sungguuuhhh luaarrr biasa. Dari waktu, tenaga, keringat, dan air mata dah lah keluar semua.

Apalagi basically Aqsa anak yang moody buat makan, nggak semua makanan cocok di dia, rawan GTM atau diemut, dan kadang picky banget sama tekstur. Makanya, 3 kg kenaikan saat ini tuh udah pencapaian yang harus disyukuri karena sesungguhnya di balik pencapaian 3 kg itu ada banyak hal yang mungkin nggak banyak orang ketahui apalagi kalau saya nggak cerita atau nulis kisahnya.

Buat yang sedang program menaikkan BB anak setidaknya sedikit banyak akan punya pengalaman yang sama dengan saya. Jadi, di balik 1 tahun dan 3 kg itu ada:

1. Denial terlebih dahulu dengan BB anak

Satu hal yang saya lakukan ketika BB Aqsa saat itu stuck sampai 6 bulanan pascasapih adalah:

“Ah nggak apa-apa BB-nya nggak naik, yang penting anaknya masih aktif dan tumbuh kembangnya baik”

Baca Juga:   #CeritaIbu: Menyapih Aqsa dengan Cinta, Tega, dan Drama

Mungkin bukan saya aja yang selalu ‘ngayem-ayemi’ hati dengan kalimat itu. Iya, sekilas memang kalau dilihat wajar BB anak nggak naik yang penting dia sehat walafiat, tapi ternyata nggak. Anak di atas usia 1 tahun tetap punya target kenaikan BB paling tidak 2 kg per tahun. Dan ini Aqsa sudah 6 bulan stuck.

Kalimat ‘ah, enggak’ yang buat ngademin hati malah semakin lama jadi toxic positivity. Sampai akhirnya saya mengumpulkan informasi dan memberanikan diri buat set target ke dokter anak spesialis tumbuh kembang bersama ayahnya untuk ngecek soal berat badan anak karena takutnya ada silent disease yang membuat BB-nya susah naik.

Well, denial memang hal yang wajar kok. Apalagi kalau kita sudah merasa memberikan yang terbaik buat mereka. But, set waktu atau deadline tertentu jika memang BB stuck seperti ini terus untuk ke DSA. Karena yang paling ditakutkan memang ada yang salah atau harus diperbaiki tetapi kita terus menyangkalnya. Prinsip saya, lebih baik sakit hati karena tahu di awal daripada menyesal kemudian.

2. Menaikkan BB anak butuh biaya yang besar

Selain menyiapkan waktu, tenaga, pikiran, perhatian, dan hati yang seluas samudera, menaikkan BB anak juga butuh biaya yang besar. Biaya di sini memang literally uang untuk beli makanan anak.

Dari makanan pokoknya saja, anak-anak harus terpenuhi asupan protein hewaninya. Berarti tiap hari untuk anak kita harus menyisihkan uang buat beli protein hewani kayak ayam, daging, telur, keju, atau ikan yang mana harganya lebih mahal daripada protein nabati seperti tahu, tempe, atau jamur.

Baca Juga:   ¨Keajaiban¨ Susu dan Perannya dalam Pencegahan Stunting pada Anak

Kemudian kandungan cemilannya pun harus sama dengan kandungan makan berat yaitu harus ada karbohidrat, protein hewani, lemak, dan sayur/buah. Ini berarti makanan yang diolah paling tidak dengan 3-4 bahan. Ibaratnya adalah macaroni schootel, perkedel daging, french toast, atau dimsum akan lebih mahal jika dibandingkan dengan buah-buahan (misalnya: jeruk atau pisang saja), kerupuk, roti tawar, atau puding.

Sebagai tambahan (dan juga pengisi asupan di waktu ngemil), Aqsa diharuskan buat meminum susu 600 ml per hari (atau 3 kali sehari @200 ml).  Sekarang apalagi minumnya makin nambah yaitu 250 ml per minum (sehari 750 ml). Ini artinya harus ada budget khusus atau tambahan untuk beli susu.

Satu bulan, kami harus membeli UHT kemasan 1 L lebih dari 20 kotak dengan anggaran sekitar Rp 500.000. Tambahan yang cukup besar bagi kami karena dulunya asupan susu Aqsa gratis karena dia minum ASI.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Tentang MengASIhi dan Dukungan di Baliknya
selalu berburu promo susu demi Aqsa bisa minum susu tiap hari

Ini masih dari sisi makanannya ya. Belum biaya ke DSA atau pemeriksaan lab lainnya pada anak jika memang ada gejala penyakit penyerta yang menyebabkan dia susah makan atau BB stuck. So, jangan kaget dengan yang satu ini.

3. Melihat akar permasalahan

Duh yang ini berasa lagi tesis atau skripsi aja ya. Tapi bener lho, emang akar permasalahan dunia makan anak ini yang harus dipecahkan. Kenapa kok dia nggak mau makan, suka diemut, atau BB-nya susah naik padahal makannya normal. Apakah ada infeksi atau penyakit tertentu? Apakah feeding rules-nya sudah tepat diterapkan? Apakah kalori yang diberikan sudah sesuai? Dan masih banyak lagi.

Saat program kenaikan BB Aqsa ini kami juga bikin pengamatan masalahnya. Kenapa Aqsa sering makan diemut. Biasanya itu disebabkan karena distraksi atau ngantuk. Oleh karena itu, sebisa mungkin kami ngasih makan Aqsa dengan minim distraksi kayak mainan atau gadget. Saya juga mengamati bagaimana oromotornya bekerja karena takut banget kalau ternyata perkembangan oromotornya nggak optimal.

Makanya di sela-sela program kenaikan BB ini, saya dan ayahnya juga sambil mutar otak. Permasalahan terbesar Aqsa adalah makan diemut apalagi kalau tekstur makanannya nggak cocok buat dia kayak nasi yang keras, daging yang alot, daging bagian dada yang nggak juicy, ikan yang dagingnya kesat, dll. Makanya kami sebisa mungkin latih terus oromotornya dengan latihan menyanyi, meniup balon, makan kerupuk, minum pakai sedotan, sensory play, dan masih banyak lagi.

Baca Juga:   Mengajari Anak Makan Sendiri dengan MUGU Suction Bowl
sensory play dengan pasir secara nggak langsung membantu anak dalam proses makan

Well, sekarang oromotornya sudah jauuuuhh lebih baik. Aqsa sudah bisa makan daging ayam dengan lahap dari yang tadinya diemut mulu. Nasi pun nggak harus yang lembek banget. PR kami yang lain adalah membebaskan dia sepenuhnya dari distraksi saat makan karena kadang Aqsa masih suka makan sambil mainan sesuatu yang kadang kalau sudah asyik sendiri jadi lupa mengunyah.

4. Patah hati saat anak jatuh sakit

Saya adalah orang yang paling menjagaaaa banget Aqsa buat selalu sehat. Kenapa? Selain naluri seorang ibu yang tentunya bakalan sedih dan patah hati kalau anak sakit, tetapi juga anak sakit tuh berpotensi banget menurunkan BB hingga tak terhingga.

Lha gimana coba, berbulan-bulan naikin BB 500 gram aja susahnya minta ampun tapi ketika sakit beberapa hari atau seminggu aja, hilang deh tuh 500 gram. Gimana nggak ngenes? Makanya pas musim pandemi gini, saya ngejaga banget Aqsa dari sakit. Soalnya kalau udah sakit, badannya habis alias BB-nya turun drastis. Meskipun sakitnya cuma pilek atau sumeng-sumeng doang.

Baca Juga:   Tips Menjaga Kesehatan Mental selama Pandemi

Makanya ketika ada yang bilang varian omicron dah kayak flu biasa, saya mending memilih tetap sehat sekeluarga deh. Kena covid-19 tuh gambling banget, di orang bisa cuma kayak flu biasa tapi di kita atau anak sendiri bisa jadi jauh lebih parah. So, saya mending menjaga diri dan mencegah anak dari sakit apapun saat program kenaikan berat badan ini.

Baca Juga:   Pengalaman Vaksin Covid-19 di Kampung Halaman

5. Komitmen dan jadwal yang ketat

Aqsa punya jadwal harian dan makan yang lumayan ketat.

  • Jam 08.00 sarapan pagi
  • Jam 10.00 minum susu
  • Jam 12.00 makan siang
  • Jam 14.00 tidur siang
  • Jam 16.00 minum susu
  • Jam 18.00 makan malam
  • Jam 20.00 minum susu
  • Jam 22.00 tidur malam

Dan jadwal ini lumayan ketat karena kalau telat atau ngaret 30 menit aja, jadwal selanjutnya bisa berantakan. Makanya sebisa mungkin sekarang kalau kelamaan tidur ya dibangunin, kelamaan makannya ya dibujuk biar cepat atau malah disudahi sekalian.

Baca Juga:   Cerita Fase Makan Anak, dari Drama GTM hingga Trauma

 

Bagi kita yang orang dewasa, mungkin jadwal itu terlihat biasa aja. Apalagi orang dewasa mah bisa sepanjang hari makan atau ngemil mulu. Tapi bagi anak kecil kayak Aqsa yang kadang picky eater dan makannya moody-an, jadwal ketat begini tuh complicated buat dia bahkan kadang membosankan. Lha gimana orang baru juga makanan turun udah diminumin susu atau sebaliknya. Tapi mau gimana lagi, sebagai orang tua kami cuma mengusahakan di setiap stepnya terasa menyenangkan biar Aqsa juga enak menjalaninya.

6. ‘Akrab’ dengan muntahan

Selama setahun ini, bukan hanya akrab dengan menu makanan tinggi kalori tapi kami juga jadi akrab dengan muntahan. Apalagi seusia Aqsa nih ya kadang masih sering muntah kalau makan.

  • Makan kekenyangan, muntah
  • Keselek dikit, muntah
  • Jam makan dan minum susu terlalu dekat, muntah
  • Mulut kepenuhan, muntah
  • Batuk, muntah
  • Makan pas sakit, muntah
  • Makan sambil ngomong, muntah
  • Habis makan ajrut-ajrutan, muntah

Dan masih banyak lagi.

Yang paling patah setiap muntah adalah ketika udah suapan-suapan terakhir yang penuh perjuangan trus hanya karena tersedak, lari-larian, atau batuk, misalnya, trus muntah dan semua makanan yang udah masuk ke perut keluar lagi. Dahlah rasanya antara mencelos banget dan pengen nangis. Seketika lemas karena perjuangan buat bujukin sampai akhirnya makanan bisa tertelan, sia-sia begitu saja.

7. Mengukur setiap hari

Sejak program kenaikan BB, timbangan digital adalah sahabat kami. Iya, pakai yang digital biar tahu kenaikannya berapa ons. Apalagi buat anak tipikal kayak Aqsa yang naiknya irit-irit banget, nggak sampai kiloan dalam sebulan. Timbangan ini juga memudahkan kami buat selalu nge-plot BB per bulannya.

Mau dibilang lebay nggak apa-apa deh. Tapi percaya atau nggak, kami hampir setiap hari meminta Aqsa buat nimbang badan. Tujuannya selain buat memantau, kami juga jaga-jaga jika dalam periode yang lumayan panjang ternyata BB stuck maka kami akan ubah strategi makan atau menunya. Pas program kenaikan berat badan ini emang kami punya target jangka pendek buat menaikkan BB dalam angka tertentu buat mencapai target jangka panjangnya (paling tidak 2 kg per tahun atau kejar target menuju garis hijau).

Percaya atau tidak, saya dan suami bisa kelimpungan kalau lama nggak ketemu timbangan digital. Seperti pas pulang kampung pertama, kami rela mantengin jadwal Posyandu di desa suami demi bisa nimbangin Aqsa. Sementara pas pulang kampung kedua, suami saya akhirnya beli timbangan digital yang khusus untuk ditaruh di kampung halaman. Tujuannya ya apalagi kalau bukan biar kami tetap bisa memantau BB Aqsa setiap saat ketika lagi pulkam.

Baca Juga:   Pengalaman Pulang Kampung Saat Pandemi

8. Melakukan banyak terobosan biar ‘demi anak makan’

Sesulit-sulitnya melobi narasumber saat saya masih jadi wartawan dulu, masih sulit melobi anak yang susah makan atau nggak mau mangap sama sekali. Segala cara dilakukan dari yang membujuk dia dengan baik-baik, ngasih janji-janji, deal-deal-an, ngasih gadget, sampai akhirnya mengancam. Sedih banget lah kalau udah sampai di fase mengancam. Tapi membiarkan anak nggak mau makan juga sedih sama BB-nya. Pokoknya serba salah banget.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Ekspektasi dan Realita Menghadapi Fase Makan Anak

Itu baru kalau nggak mau makan atau nggak mau mangap. Belum lagi kalau makanannya diemut. Kami harus selalu mengingatkan Aqsa kalau pas makan dia melamun, ngasih minum yang banyak biar tertelan, suruh ngelepehin makanan yang udah diemut lama, kasih kerupuk biar mulutnya gerak, sampai kasih makanan yang dia suka biar mulutnya mau mengunyah kayak buah. Makanya nggak heran kalau beberapa kali Aqsa suka makan dengan menu nasi-lauk-buah, bukannya nasi-lauk-sayur. Seepik itu emang dunia makan Aqsa biar dia mau mengunyah.

Belum lagi kalau selera makannya udah mulai angot-angotan, maka kami akan atur strategi. Kayak makan di luar (dine in) biar dia dapat suasana baru (Aqsa selalu bersemangat kalau makan di resto, btw), kreasiin menu makanan, delivery makanan karena Aqsa juga penyuka makanan yang turun dari abang ojek online, makan junk food atau ayam goreng tepung kesukaannya, beliin dia bakso buat makan (karena bakso adalah makanan yang bikin dia semangat lagi) sampai masak yang itu-itu teruuusss kalau lagi ada makanan yang disuka.

Pokoknya kami ngikutin flow makannya Aqsa deh. Kalau sekiranya dia kelihatan udah bosan sama makanan tertentu, kita cepat-cepat putar otak mikir mau makan apalagi nih.

makan di luar adalah senjata terakhir kami biar Aqsa mau makan

9. Senangnya melihat angka yang ‘tak seberapa’

Kenaikan 100-200 gram itu amat berharga buat kami. Kami menghargai bukan hanya hasil tapi segala proses yang dilakukan agar Aqsa mau makan dan BB-nya naik. Makanya walaupun kelihatannya kami berambisi banget sama kenaikan BB Aqsa, tapi kami tetap dalam koridor ingin memberikan kegiatan makan yang nyaman buat Aqsa.

Kalau tiap Aqsa nimbang trus naiknya drastis, wuaaahhh senangnya melebihi dapat segepok uang deh. Selain itu, kebahagiaan sederhana lainnya tuh kalau tiba-tiba Aqsa makan yang di luar ekspektasi, kayak pas saya dan suami lagi mau makan nasi Padang trus dia pengen padahal udah tercampur pedas sampai akhirnya dikasih dan habis lahap. Itu jadi kebahagiaan tersendiri. Atau makan dengan lahap dan cepat, misalnya habis dalam 10 menit. Nah itu yang bikin kami bahagia banget.

Baca Juga:   Tetap Bahagia dalam Pernikahan Walaupun Belum Memiliki Momongan

Selama program kenaikan BB anak ini saya menyadari ada hal-hal kecil yang ternyata bisa bikin kami bahagia. Goals kami sebagai orang tua bukan cuma kenaikan BB Aqsa secara signifikan tapi juga dia enjoy dengan makanan yang dia makan, menikmati prosesnya, belajar dari setiap pengalaman makannya, dan kebaikan lain dalam hal makan. Kami juga berprinsip Aqsa ngga harus gendut tapi berada dalam BB yang normal dan tumbuh kembangnya baik.

So, itu dia beberapa tantangan dan suka duka saya dan suami selama satu tahun ini bahu-membahu menaikkan BB anak. Kalian yang senasib sama saya, apa aja suka dukanya nih? Yuk, share juga pengalamanmu di kolom komentar.

 

0 Comments
Previous Post
Next Post