Drama Tertusuk ´Sate Termahal´ di Dunia

Drama Tertusuk ´Sate Termahal´ di Dunia

Tahun ini alhamdulillah akhirnya saya dan suami berkurban di rumah. Ini adalah kali pertama kurban saya dan suami di rumah kami di Ciledug. Sebelumnya, kami bertahun-tahun memilih kurban di kampung halaman, entah itu di masjid atau memotong sendiri, dengan alasan lebih praktis dan tinggal terima jadi. Setelah itu baru deh hasilnya diolah salah satunya jadi sate.

Dan saya adalah salah satu orang yang paling semangat mengolah sate karena tahun lalu pas pulang kampung sate buatan saya enak banget berkat ilmu dari tante saya yang suruh campurin bumbu sate dengan nanas. Satenya nggak cuma disukai ibu saya tapi juga bapak dan ibu mertua saya. Nggak ada yang bisa menggambarkan betapa senangnya hati orang yang masak kalau masakannya diapresiasi dengan baik. Jadi tahun ini saya emang berniat bikin sate sendiri lagi.

Baca Juga:   Pulang Kampung (Lagi) saat Pandemi

Dan pada pagi itu, pagi yang cerah di Hari Jumat, nggak ada firasat apapun saya bikin sate dengan senang hati. Saya bikin bumbu, blender nanas, iris daging, marinasi, nusukin, sampai bakar pun sendiri.

Nah, pas nusukin sate telunjuk saya sempat ketusuk. Rada sakit sih emang tapi karena sudah biasa dan nggak berdarah ya udah lah ya, nggak saya cuci. Saya lanjut aja. Seingat saya waktu itu lanjut memblender nanas dan mengupas bawang.

Rasa setelah tertusuk sih biasa saja. Hanya perih sedikiiit trus ada gatal-gatalnya. Saya yang biasa ketusuk, kena pisau, kecipratan minyak, dan kena kecelakaan lain saat masak sih dah kebal. Makanya saya cuek aja.

Hari itu sekitar 30 tusuk sate jadi. Orang rumah makan dengan lahap. Saya sampai masak nasi dan bikin sambal kecapnya 2 kali karena mereka makan muluk. Hati saya senang walaupun tangan saya masih ada gatal-gatalnya dikit karena tertusuk.

Sabtu dan Minggu saya pun terlalui dengan baik-baik saja. Bekas tertusuk tusukan sate nggak jadi masalah besar tapi masih meninggalkan sedikit rasa gatal di telunjuk. Kadang kalau saya lagi nganggur dan iseng, saya uwek-uwek aja pakai ibu jari biar nggak terlalu gatal.

Sampai akhirnya Hari Senin di bekas tempat tertusuk sate muncul benjolan berisi air dan sedikit nanah. Mulainya kecil dan nanahnya hanya setitik. Saya kira akan bentol biasa saja karena saya sering mengalami gatal yang isinya air di tangan. Tapi kok makin siang, benjolannya makin besar. Nanahnya pun makin meluas. Tapi saat itu yang dirasakan masih dominan gatal meskipun mulai ada rasa perih karena bengkak.

Karena saya pernah dan sering bengkak-bengkak di tangan karena cantengan, saya pikir bengkak isi air ini nanti akan kempis sendiri. Walaupun jari semakin lama semakin sakit nyut-nyutan, saya tetap positive thingking. Saya masih ingat duluuu banget pas cantengan yang sakitnya sampe ke ubun-ubun, nah kali ini bengkaknya belum sesakit itu. Jadi saya pikir nggak akan sampai parah-parah banget.

Baca Juga:   Mengenal Cantengan, Penyakit Sepele yang Mengganggu Kegiatan Blogging

Be;ajar dari cantengan beberapa tahun yang sakitnya sampai ke ubun-ubun, saya coba pakai rivanol buat mengompres bengkaknya. Harapannya sih biar layu dan nggak terlalu nyut-nyutan. Mana Hari Selasa saya ada event offline, pasti akan sangat membatasi gerak dan cukup mengganggu.

Tapi ternyata perkiraan saya salah.

Hari Selasa, bengkak malah makin besar. Nanah juga udah makin meluas. Kondisi jari sakit dan sulit digerakkan tapi saya masih harus event offline di RS Premier Bintaro. Biar saya bisa event dengan agak santai, nggak nyut-nyutan, tangan saya kompres dengan rivanol dan saya perban sampai tertutup. Alhasil pas event banyak yang nanyain tangan saya kenapa. Tapi nggak apalah, yang penting saya masih bisa kerja dengan baik.

Baca Juga:   Mengenal Saraf Kejepit dan Penanganannya di RS Premier Bintaro

Pulang dari event, saya buka perban di jari dan ternyata bengkak tambah besar. Trus pas lagi hot-hotnya bengkak, jari telunjuk saya kejepit kulkas. Duh lah pengen pingsan rasanya. Di situ pula saya masih enggan ke dokter karena bingung mau ke dokter apa dan takut sakit. Berbekal pengalaman pas cantengan dulu, saya pikir mendingan dibeliin salep aja untuk mengempiskan bengkaknya.

Selasa malam, diantar suami saya ke apotek untuk beli salep. Setelah saya perlihatkan bengkak yang ada di jari, mbak-mbak apoteknya justru merekomendasikan bengkak dipecahin dulu baru nantinya beli salep di apotek. Jadi nggak ada jalan lain emang selain dipecahin dulu.

Malam jelang dan saat tidur, jari semakin nyut-nyutan. Saya harus tidur dengan posisi tangan ke atas karena selain biar nggak begitu kerasa sakit juga biar nggak ketindihan Aqsa. Kan nggak lucu ketindihan Aqsa trus pecah berdarah-darah tengah malam. Di malam itu juga saya sama sekali nggak bisa tidur nyenyak karena sakit dan takut.

Rabu paginya setelah bangun tidur, bengkak makin-makin besarnya. Jari saya susah dilipat. Bagian bengkaknya sakit dan hampir mati rasa. Sementara di sekelilingnya nyut-nyutan tapi ada rasa sedikit gatal minta digaruk. Tangan juga rasanya nggak karuan. Buat masak, cuci piring, atau ngapa-ngapain susah. Mau nggak mau saya tekadkan hari itu buat ke dokter dan pecahin bengkak ini.

Saya dan suami sempat bingung harus ke dokter apa buat pecahin bengkaknya. Sama bingungnya dengan dulu pas cantengan. Sempat pengen ke UGD tapi kok kayaknya sakitnya cuma begini, alias nggak parah-parah amat, haha. Pengen ke Puskesmas dekat rumah takut ngantri, makin sakit, dan nggak yakin sama pelayanannya (karena pernah ada pengalaman nggak enak dari adik saya pas ke sini). Akhirnya kami cari klinik aja yang ada dokter jaganya.

Beruntung ada klinik yang siang-siang buka dan masih ada dokternya. Saat ditanya sakit apa ya saya tunjukkin aja bengkaknya. Saking bengkak dan sakitnya menjalar ke hampir seluruh tangan, saya susah buat menggerakkan tangan untuk ditensi.

Pas ketemu dokter, benar kan bengkak harus diinsisi alias dipecahin. Saya udah ngeri duluan sih karena bakal sakit tapi untungnya dokter menawarkan apakah mau dibius aja. Jelas saya mau, daripada nanti pas dibelek saya pingsan kan makin berabe.

Dan ternyata saya salah perkiraan. Dibius pun sakit banget karena harus disuntik di area dekat bengkaknya alias area-area yang terasa ngebet. Mana suntiknya 2 kali lagi, huhuhu. Saya dah pengen nangis dan teriak kesakitan. Tapi karena ada Aqsa yang nungguin, jadi saya stay cool. Paling menggeram-geram dikit sama tarik dan buang nafas aja. Asli, ini suntikannya lebih-lebih sakitnya dari pas saya suntuik ILS. Soalnya yang disuntik emang area yang dekat bengkak banget.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Suntik ILS dan Tes ASA

Mungkin karena saking kencang dan ngebetnya di area sekitar bengkak kali ya, jadi sakit banget. Rasanya nggak bisa digambarkan deh. Untung nggak lama daerah di sekitar bengkak jadi baal alias mati rasa. Sengaja banget saya suruh dokter buat nunggu sampai benar-benar mati rasa karena takut sakit pas dipecahin.

Pas tiba saat momen dipecahin, benar aja tuh cairan yang ada muncrat karena saking menekannya ke kulit. Air dan nanah muncrat sampai kena dokternya. Habis itu baru deh semua air, nanah, dan darah di tangan dikeluarkan sampai habis. Sementara kulit yang sudah sobek dan layu, dikerok trus dipotong deh. Tersisa luka yang terbuka bekas sobekan kulit.

Selanjutnya luka dibersihkan, diberi semacam salep, dan ditutup rapat dengan kasa. Saya disuruh datang kembali 3 hari kemudian dan selama itu pula luka nggak boleh kena air. Ini artinya saya nggak leluasa buat mengerjakan pekerjaan rumah dari masak sampai cuci piring. Saya juga diresepin obat sama dokter dan harus dihabiskan.

Alhamdulillah, suami saya yang baik hati bilang cuci piring dan baju diambil alih oleh dia. Sedangkan memasak tetap sama saya karena dia nggak bisa masak. Kalau masak atau mandi, ya terpaksa jari telunjuk saya bungkus air agar nggak basah. Kesempatan buat saya istirahat tipis-tipis nih.

Sepulang dari klinik, tangan saya mulai nyut-nyutan. Perlahan biusnya mulai hilang dan rasa nyut-nyutan pun datang semakin hebat. Rasa sakitnya kayak sampai ke tulang trus menyebar ke pergelangan tangan. Sakitnya ini perpaduan antara sakit bekas suntikan sama luka kulit yang menganga karena terbuka. Duh, pas nulis ini aja sampai ngilu karena terbayang sakitnya. Pokoknya saat itu buat gerak atau jarinya nekuk, semuanya sakit.

Entahlah, pain tolerance saya yang makin rendah atau emang aslinya sakit banget. Tapi kalau kebayang saat itu, masih bikin merinding sakitnya.

Beberapa hari setelah bengkak dipecahin, perlahan tangan mulai terbiasa dengan rasa sakitnya. Di sekitar area plester juga kulit saya jadi rada-rada gatal, entah karena alergi dengan plester atau tanda-tanda kesembuhan luka.

Setelah 3 hari, saya kembali lagi ke klinik. Kembali lagi, luka harus dibuka dan ternyata masih sangat perih apalagi pas ditempel alkohol. Penampakan luka udah nggak sengeri sebelumnya kendati kulit masih terbuka. Karena luka masih belum kering, dokter pun membungkus kembali lukanya. Nggak lupa saya diberi obat minum dan juga salep untuk lukanya ketika nanti sudah dibuka.

Dokter menyarankan luka dibuka setelah 3 hari. Setelah dibuka pun, luka jangan sampai keseringan kena air dulu karena takut akan lama keringnya.

Dan ketika akhirnya luka dibuka setelah 3 hari pun masih rada basah. Tapi sudah jauh lebih wajar sakitnya, nggak perih-perih amat. Kadang kalau kelupaan pun lukanya masih kena air dan terasa nyut-nyutan. Apalagi karena sudah cuci piring kembali, beberapa kali luka yang belum menutup sempurna dan kulit yang masih tipis kena pinggiran perabot metal yang agak tajam kayak pinggiran gagang sendok sayur atau wajan. Rasanya jangan dibilang deh, masih asoyy banget nyut-nyutannya.

Sekarang, saat saya menulis tulisan ini sudah sebulan lebih sejak luka dibuka. Kulit masih tipis dan kadang masih terasa perih kalau tergores sesuatu. Tapi ini udah much much better ketimbang beberapa minggu yang lalu.

Bolak-balik dokter dan klinik buat mecahin bengkak plus ngeluarin nanah gini ternyata lumayan juga biayanya apalagi saya nggak pakai BPJS. Dua kali ke dokter, saya menghabiskan biaya lebih dari Rp 500.000, biaya yang kalau dibeliin Sate Senayan udah bisa makan sampai kenyang tumpah-tumpah plus nggak perlu repot bikin, tusuk-tusuk, sampai cuci piring. Belum lagi ngerasain sakit sebelum dan sesudah dipecahin, kalau disuruh ngulang dan dibayar puluhan juta juga saya ogaaahhhh, sakit banget.

Dah lah beruntung suami dan adik saya makan sate seharga Rp 500.000 lebih. Kalau ditambahin sama biaya menahan rasa sakit dan keterbatasan lain yang saya alami semasa tangan bengkak, sate ini bolehlah ya saya sebut sebagai sate termahal di dunia. Karena buat bikin 30 tusuk bukan cuma harus ´nebus´ setengah juta rupiah lebih tapi juga mengalami kesakitan yang bikin saya jadi nggak produktif.

 

1 Comment
Previous Post
Next Post