Setiap kelahiran anak memberikan cerita dan pengalaman yang berbeda. Itulah yang saya alami. Saya kira, karena sudah berpengalaman dan sukses menyusui dengan cara DBF di anak pertama, anak kedua akan enteng-enteng saja. Nyatanya tidak. Di anak kedua, saya berjuang keras dengan apa yang namanya proses menyusui hingga akhirnya kena baby blues. Di anak kedua pula ini saya sedih banget karena gagal DBF dan akhirnya jadi mom eping (exclusive pumping). Rasanya kayak gagal setiap hari. Tapi saya sadar, saya nggak boleh lama-lama bersedih karena masih ada Hagia dan Aqsa yang harus saya urusin setiap hari. Mantra saya di anak kedua ini adalah “walaupun saya nggak bisa menyusui langsung, saya tetap berusaha memberikan yang terbaik buat Hagia”.
Di anak kedua ini saya belajar lagi banyak hal. Saya jadi bersahabat dengan pompa ASI dan segala perintilan buat pemberian ASIP ke bayi mulai dari pipet, dot, spuit, SNS, sampai sendok. Saya juga belajar manajemen ASIP dan cara pumping yang efektif. Peralatan menyusui saya seabrek dan disimpan dalam wadah besar tertutup. Setiap hari saya memutar otak buat manage waktu biar nggak kecapekan karena jadi mom eping itu rasanya capek berkali lipat. Selain memberikan susu buat anak yang notabene nggak bisa sambil tiduran atau istirahat kayak kalau DBF, mom eping juga harus berkutat dengan cucian peralatan menyusui dan pumping yang seabrek.
Selain itu, saya juga masih aktif memompa ASI walaupun Hagia sudah masuk masa MPASI. Kalau saat usia di bawah 6 bulan saya sehari bisa memompa 7-8 kali (per 3 jam), kini sudah lebih sedikit. Sekarang saya hanya 4 kali memompa dalam sehari. Tapi bukan berarti semuanya jadi lebih ringan. Ada tantangan baru lagi yaitu pemberian MPASI pada Hagia. Jadi waktu pumping saya dulu yang berkali-kali itu, kini dialokasikan buat masak dan memberikan MPASI pada Hagia.
Rasanya tetap capek, capeeekkk sekali. Belum lagi kalau Hagia GTM, saya harus mencoba memberi makan berkali-kali. Pumping kadang jadi telat atau malah ke-skip karena capek. Belum lagi saya juga harus mengerjakan pekerjaan rumah. Rasanya pengen istirahat lama tapi pumping kan tetap harus karena kalau ditunda-tunda selain stok ASIP jadi menipis dan berpotensi bikin ASI seret, juga bisa bikin payudara bengkak yang efeknya bisa jadi mastitis atau malah abses.
Memilih Pompa ASI yang Layak

Dulu, saat masih punya anak satu, saya nggak pernah tahu kalau memilih pompa ASI tuh ada kriterianya. Pas zaman Aqsa dulu, saya punya pompa ASI ya dari hasil capcipcup alias beli dadakan, yang ada di baby shop dan harganya terjangkau, ya itu yang diambil. Durasi memompa, bagaimana cara memancing LDR, hindmilk, foremilk, manajemen ASIP, saya nggak tahu sama sekali. Punya pompa ASI yang kedua pun hasil endorse, haha.
Pas melahirkan Hagia dan qadarullah harus jadi mom eping, saya belajar banyak hal soal pumping, laktasi, sampai manajemen ASIP. Saya baru tahu kalau pompa ASI ada banyak jenisnya, berapa minimal durasi memompa ASI yang ideal, bagaimana cara memancing LDR, bagaimana cara biar ASI lebih banyak hindmilknya, kapan foremilk dan hindmilk, keluar, dan lain-lain termasuk juga bagaimana kriteria pompa ASI yang baik. Yup, karena ternyata memilih pompa ASI nggak bisa sesembarangan itu.
Ada beberapa macam pompa ASI, antara lain:
- Pompa ASI Manual
- Pompa ASI Single Pump tanpa selang
- Pompa ASI Single Pump Berselang
- Handsfree Wearable
- Handsfree berselang
- Pompa ASI Double Pump Single Motor
- Pompa ASI Double Pump Double Motor
Memilih breast pump adakalanya memang membingungkan, terutama bagi ibu baru. Dita Febriyanti. konselor menyusui GabaG mengatakan bahwa banyak juga ibu yang menggunakan breast pump elektrik, karena kelebihan dari breastpump elektrik ini lebih efektif untuk pengosongan payudara dan dianggap lebih nyaman karena minim menimbulkan rasa sakit ketika memerah ASI. Tapi cermatlah dalam memilih pompa ASI karena semuanya akan berpengaruh pada produksi ASI.
Karena hal ini pula, saya akhirnya jadi banyak belajar tentang pompa ASI, satu alat yang bisa menjamin keberhasilan menyusui. Setelah mencoba beberapa pompa ASI, mulai dari yang manual, single pump tanpa selang, hingga double pump single motor, pilihan saya jatih pada pompa ASI single pump tanpa selang. Alasannya sih sederhana, karena lebih maksimal kalau digunakan untuk memperbanyak atau mempertahankan volume ASI, gampang digunakan, aksesorisnya sedikit, dan mudah dibawa saat berpergian atau pulang kampung. Pompa ASI ini jugalah yang memudahkan dan membuat saya hingga sekarang masih konsisten menyusui walaupun tidak secara langsung.
GabaG Kolibri X360, Harapan Mom Eping untuk Memompa ASI Lebih Fleksibel

Rasanya, punya pompa ASI yang fleksibel adalah impian saya atau bahkan banyak mom eping di luar sana. Yang bisa memompa ASI tapi dengan posisi leyeh-leyeh atau bahkan semitiduran. Bayangin aja, sehari-hari punggung saya yang udah pegal karena mengerjakan kerjaan rumah dan gendong anak ini masih harus duduk tegak buat pumping. Atau saat sepertiga malam terakhir lagi ngantuk-ngantuknya, harus tetap pumping atau malah power pumping demi stok ASIP yang cukup. Bahagia banget rasanya kalau bisa pumping dengan posisi yang santai.

Ternyata impian pumping dengan posisi fleksibel atau santai bukan hanya angan-angan sekarang karena GabaG, brand lokal yang dikenal sebagai sahabat para ibu menyusui, resmi meluncurkan produk breast pump terbarunya: GabaG Kolibri X360. GabaG Kolibri X360 adalah sebuah electric breast pump inovatif yang dirancang untuk memberikan kenyamanan ekstra dalam proses memompa ASI dengan berbagai macam posisi pumping yang lebih fleksibel.

Gabag Kolibri X360 ini memiliki keunggulan pada fitur support lying position yang memungkinkan ibu memompa ASI dalam posisi bersandar sampai semi tiduran, serta desain vacuum dan leak-free yang mencegah tumpahan dan memastikan pengalaman pumping yang lebih fleksibel dan bebas repot. GabaG Kolibri X360 juga merupakan pompa ASI Hospital Grade dengan 4 mode pumping canggih — Expression (perah ASI), Unique Suction (mendatangkan Let Down Reflect), Stimulation (Memijat), dan Double Frequent (untuk puting tenggelam), serta memiliki 12 level kekuatan hisap di setiap mode. GabaG Kolibri X360 memberikan kontrol penuh sesuai kebutuhan setiap ibu.

Alat ini dirancang untuk kenyamanan dan efisiensi. Dalam paketnya terdapat botol PPSU 180 ml (wide neck), dua silicone breastshield ukuran 24 mm dan 28 mm, serta tutup corong. Fitur lain mencakup mode jeda dan memori, layar LED dengan indikator waktu, dan baterai 1100 mAh yang dapat digunakan hingga 120 menit. Dengan berat hanya 400 gram dan suara di bawah 60 dB, pompa ini praktis dan tenang saat digunakan. Produk ini juga telah bersertifikasi CE, RoHS, dan BPA-free.
Menurut Gabriella R. Lengkong, Direktur GabaG Indonesia, Kolibri X360 hadir untuk menjawab keresahan ibu-ibu yang kesulitan memompa ASI karena posisi badan harus tegak yang cenderung membuat ibu kelelahan dan ini sangat berpengaruh kepada hasil perah ASI. Harapannya, dengan pompa ASI ini, semoga para ibu akan lebih menikmati dan semangat dalam proses mengASIhi.
GabaG Kolibri X360 akan tersedia secara eksklusif di E-commerce Shopee – GabaG Official Store pada tanggal 25 Mei 2025 dan segera tersedia juga di seluruh official store Ecommerce lainnya. Dengan peluncuran Kolibri X360, GabaG berharap dapat semakin memperkuat komitmennya dalam menghadirkan produk berkualitas yang memahami kebutuhan ibu menyusui masa kini. Dan buat para ibu menyusui di luar sana, khususnya mom eping, harapan memompa ASI sambil istirahat pun kini bisa jadi kenyataan.

GabaG Kolibri X360 ini akan tersedia secara eksklusif di E-commerce Shopee hingga GabaG Official Store pada tanggal 25 Mei 2025 dan segera tersedia juga di seluruh official store Ecommerce lainnya. Dengan peluncuran Kolibri X360, GabaG berharap dapat semakin memperkuat komitmennya dalam menghadirkan produk berkualitas yang memahami kebutuhan ibu menyusui masa kini.
So, tidak apa-apa dan bukan aib jika ibu gagal menyusui secara langsung dan akhirnya jadi mom eping karena saya yakin setiap ibu pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Tetap semangat mengASIhi walaupun tidak bisa secara langsung. Pesan saya adalah tetap konsisten memompa ASI demi keberlangsungan menyusui hingga 2 tahun dan pilihlah pompa ASI yang bisa mendukung itu semua. Karena dengan memilih pompa ASI yang tepat, keberhasilan menyusui insyaallah bisa dilakukan hingga 2 tahun.
