#CeritaIbu: Pengalaman Mudik Awal Waktu bersama Anak saat Pandemi

#CeritaIbu: Pengalaman Mudik Awal Waktu bersama Anak saat Pandemi

Setelah 2 tahun saya dan mungkin banyak orang lain di luar sana yang nggak bisa mudik Lebaran gegara corona, alhamdulillah tahun ini kita dapat kesempatan mudik lagi. Meskipun dengan berbagai syarat. Saya dan suami termasuk orang yang sudah berencana dan tentu saja excited bahkan dari sebelum bulan puasa tiba. Seluruh syarat mudik termasuk booster vaksin covid-19 pun saya penuhi.

Baca Juga:   Pengalaman Vaksin Covid-19 di Kampung Halaman

Setelah terjadi tukar jadwal berkali-kali dengan adik (karena urusannya dengan siapa yang bakal nungguin rumah lebih lama), saya dan suami pun memutuskan untuk pulang kampung saat awal puasa. Awalnya malah kami pengen pulang kampung sebelum bulan puasa tapi ternyata banyak urusan pekerjaan yang belum selesai sehingga kami mengundurkan jadwal pulang kampung jadi tanggal 7 April 2022.

Ini pulang kampung ketiga saya saat pandemi. Ini juga pulang kampung ketiga saya via jalan darat menggunakan mobil pribadi. Tapi, kali ini adalah pulang kampung pertama saya pas puasa dan mudik dengan menggunakan mobil. Rasanya deg-degan karena takut nggak kuat di jalan karena lemas dan haus. Sampai-sampai, saya dan suami mempersiapkan plan B kalau nggak kuat di jalan karena faktor puasa, perjalanan dilanjutkan esok harinya dan kita check in dulu aja di hotel buat istirahat.

Baca Juga:   Pengalaman Pulang Kampung Saat Pandemi

Kalau dari segi bawaan sih, sama seperti pulang kampung yang sebelumnya, barang bawaan kami tetap banyak. Alasannya ya apalagi kalau bukan buat persiapan lama di kampung karena mudik kali ini kami rencanakan sampai 3 bulan. Ya, mumpung suami masih WFH entah sampai kapan. Yang beda cuma saya bawa banyak oleh-oleh Lebaran buat orang tua di kampung.

Karena mudiknya saat bulan puasa, kami jadi punya kesempatan buat berangkat setelah sahur. Pasalnya, pas udah bangun sahur mendingan bablas sekalian nggak tidur biar kami bisa jalan pagi-pagi sekali, belum kena macet orang berangkat kerja di tol, dan bisa sampai tujuan sebelum malam.

Baca Juga:   Pilah-Pilih Acara Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadan

Soal Aqsa gimana? Kami emang bikin skenario dia nggak usah mandi dulu pas berangkat pulkam. Ya, anak kecil kan suka susah disuruh mandi subuh. Jadi daripada terjadi drama mandi yang bakal bikin mood hancur, mendingan Aqsa nggak usah mandi sekalian, cuma cuci muka dan ganti baju. Untungnya, pagi itu dia tumben-tumbenan ikut bangun sahur. Jadi kami nggak harus mengalami drama bangunin dia yang berujung ngamuk karena masih ngantuk.

Perjalanan lebih pagi ternyata membawa pengalaman baru bagi saya. Yang pasti, buat saya yang bukan morning person mata rasanya kayak berat banget. Sumpah ngantuk buanget saya tuh pagi-pagi. Mana nggak bisa makan dan minum biar nggak ngantuk. Alhasil, yang bisa saya lakukan ya cuma dengarin musik dan ngobrol sama suami, biar dia nggak ngantuk juga.

Sementara Aqsa? Dia udah KO alias tidur bahkan sebelum sampai Cikampek. Karena ya emang dia aslinya udah ngantuk karena bangun kepagian.

Satu hal yang saya syukuri pas mudik kali ini adalah cuaca cerah. Padahal beberapa hari sebelumnya di rumah mendung-mendung dan bahkan hujan. Alhamdulillah cuaca cerah menuju panas jadi perjalanan bisa lancar tapi nggak bisa lebih cepat. Apalagi di tol Cipali sudah diberlakukan tilang elektronik sejak tanggal 4 April 2022 di mana maksimal kecepatan kendaraan di dalam tol adalah 100 km/jam.

Karena saya dan suami puasa, maka pemberhentian selama perjalanan kami lebih sedikit. Pemberhentian pertama kami lakukan di rest area KM 166 Cikopo Palimanan buat mengistirahatkan mobil dan kasih makan Aqsa. Alhamdulillah, rest area pagi itu masih sepi. Belum ada posko siaga mudik juga yang terlihat. Mungkin karena suasana mudik masih belum terasa.

Selama perjalanan, Aqsa sangat menyenangkan. Dia nggak muntah di jalan seperti pulang kampung pertama dan kedua karena kami sudah belajar dari pengalaman.

Baca Juga:   Pulang Kampung (Lagi) saat Pandemi

Beberapa pelajaran penting yang kami petik biar anak nggak muntah di jalan pada perjalanan darat, antara lain:

  • Biarkan dia tidur di jalan
  • Duduk di kursi sendiri (tidak di pangku) biar si kecil leluasa tidur
  • Tidak minum susu sebelum makan (karena kalau muntah susu duhlah baunya nggak ilang-ilang di mobil)
  • Makan secukupnya, nggak maksa sampai yang banyak banget
  • Kalau nggak mau minum susu, jangan dipaksa
  • Sedia cemilan buat anak
  • Batasi pemberian gadget atau tontonan selama di jalan karena menatap layar gawai di mobil berjalan bikin pusing dan berpotensi muntah
  • Ajak si kecil mengobrol
  • Sedia obat antimabuk dan minyak kayu putih

Saya mempraktikkan tips di atas. Memang Aqsa sukses nggak muntah sampai tempat tujuan tanpa harus kami minumkan obat antimabuk. Tapi memang khusus hari itu, dia jadi kendor minum susu. Padahal setiap hari, jadwal minum susunya ketat karena program kenaikan BB. Tapi nggak apalah, sehari ini. Itung-itung dispensasi.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Suka Duka Menaikkan Berat Badan Anak

Mudik kali ini kami kembali mengambil jalur selatan untuk sampai ke kampung halaman. Setelah mencoba jalur utara di pulang kampung sebelumnya, ternyata jalur selatan-lah yang cocok untuk kami lewati dari segi waktu tempuh, kontur jalan, sampai biaya tol dan bensin. Untungnya jalan di jalur selatan sudah mulai ada perbaikan. Jadi kami nggak harus melewati jalanan rusak parah dan mengantri bersama kendaraan besar lainnya yang notabene jalannya sangat lama.

Tapi sialnya juga, berperjalanan sebelum musim mudik tiba bikin kita harus bertemu banyak perbaikan jalan. Sepanjang jalan tol Cipali sampai jalur selatan, ada kali lebih dari 10 titik perbaikan jalan. Dari yang hanya diingatkan untuk jalan pelan sampai yang harus nunggu lama antrian buka tutup jalur. Well, kalau dihitung perjalanan kami bisa molor sekitar 1 jam karena ya ada perbaikan jalan di mana-mana. Mungkin kalau nggak ada perbaikan jalan, waktu tempuh bisa berbeda alias lebih cepat.

Walaupun begitu, melakukan perjalanan darat jauh saat puasa memang memberikan pengalaman seru tersendiri buat saya dan suami. Kami tentu harus melawan bukan cuma rasa lapar dan haus tetapi juga lelah dan kantuk. Memaklumi banyak hal kayak Aqsa yang porsi makan atau minum susunya lebih dikit dari biasanya di rumah, bikin kami jadi sedikit lebih waras menghadapi perjalanan.

Baca Juga:   Tetap Sehat Mental dan Keuangan setelah Setahun Pandemi

Buat kalian yang masih WFH atau waktunya selo banget, mudik awal waktu kayak saya bisa direkomendasikan. Selain bebas macet, juga belum ada pemeriksaan ketat sana-sini seputar covid-19. Nggak enaknya hanya akan sering-sering bertemu titik perbaikan jalan.

Kalau ditanya apa tips mudik awal waktu menggunakan jalur darat (mobil) saat bulan puasa ini, saya bisa kasih beberapa, antara lain:

  • Istirahat, makan, dan minum yang cukup sebelum melakukan perjalanan mudik
  • Jangan lupa booster vaksin terlebih dahulu
  • Berangkat sehabis sahur sangat direkomendasikan karena selain belum panas banget, kendaraan di tol dan jalanan juga masih lengang
  • Jangan membawa barang bawaan terlalu banyak
  • Atur kecepatan di tol agar maksimal hanya 100 km/jam
  • Istirahat bila lelah di jalan atau mobil sudah berjam-jam digunakan
  • Jika lelah, mengantuk, atau cuaca di jalan tidak bersahabat, ada baiknya punya plan B untuk beristirahat di tempat peristirahatan atau penginapan sejenak
  • Jika membawa anak kecil, penuhi kebutuhannya (makan, minum, tidur) selama di perjalanan
  • Usahakan anak-anak memiliki tempat duduk sendiri atau menggunakan car seat
  • Turunkan standar pada kebiasaan anak-anak saat perjalanan di bulan puasa

Ada lagi yang mau nambahin? Khususnya kalian yang emang biasa mudik menggunakan jalan darat alias mobil. Kalau ada, yuk sekalian kasih insight lebih lagi di kolom komentar.

Selamat mudik atau mempersiapkan mudik Lebaran ya. Akhirnya tahun ini kita bisa berkumpul lagi bersama keluarga.

 

0 Comments
Previous Post
Next Post