#CeritaIbu: Menstimulasi Kemampuan Berbicara Anak

#CeritaIbu: Menstimulasi Kemampuan Berbicara Anak

Dari baru lahir sampai sekitar setahun, Aqsa rutin ke dokter anak setiap sebulan sekali. Selain tinggi, berat, dan lingkar kepalanya, kemampuan lain kayak motorik kasar, halus, dan komunikasinya juga selalu dipantau oleh dokter anak. Satu pertanyaan yang selalu ditanyakan dokter khususnya ketika usianya sudah di atas 6 bulan adalah ¨Sudah bisa mengeluarkan kata-kata apa?¨.

Saat dia mulai babbling, kami senang sekali. Tapi ketika bertambah bulan dan kosakatanya masih stuck di ¨Ya¨ (ayah), ¨U¨ (ibu), dan ¨Puh¨ (mpus), kami sudah waspada.

Setahun lebih, penambahan kosakatanya nggak banyak. Tapi kalau diajak berkomunikasi, Aqsa tahu. Kami minta menunjuk sebuah benda yang kami sebutkan juga dia tahu. Hanya saja kosakata yang keluar dari mulutnya minim. Kalaupun bisa ngomong, itu juga bukan kata utuh. Kayak terima kasih pasti dia selalu bilang ¨Ih¨ aja. Begitulah…

Saya dan suami nggak mau denial. Pas lihat Aqsa perkembangan bahasa dan vocabnya kok sedikit, kami harus tetapkan target nih di umur sekian harus bisa berapa kata atau ya kita mau nggak mau harus aware sama red flag-nya. Bahkan saya udah ngomong sama suami, ini kalau Aqsa masih gini-gini aja kita akan bawa dia ke psikolog anak kek, terapis kek, atau apapun itu buat meyakinkan diri bahwa tumbuh kembangnya khususnya masalah komunikasi tetap normal dan on the track.

Baca Juga:   Pentingnya Susu Buat Tumbuh Kembang Anak-Anak

Hingga akhirnya, pandemi datang menyerang dan kita semua harus di rumah aja. Yang bisa kami lakukan ya hanya berusaha sendiri karena untuk bertemu orang saat itu masih takut. Kami pun mencoba banyak cara dan hasilnya memang kelihatan banget. Aqsa yang tadinya ngomong cuma sepatah-patah dan kosakatanya sedikit, sekarang udah masyaallah ceriwis banget sampai nggak bisa diam dan kami kewalahan. Kosakatanya udah banyak banget, bisa menghafal isi buku dengan runtutan kalimatnya, dan nanya ini itu mulu.

Ini beberapa hal yang akhirnya saya dan suami lakukan buat memancing kemampuan komunikasi anak semasa pandemi. Siapa tahu berguna buat para orang tua yang juga mengalami permasalahan yang sama dengan kami dulu.

1. Berbicara dalam Satu Bahasa

Dengan berat hati, ketika melihat perkembangan bahasa dan komunikasi Aqsa yang menurut saya agak lambat, saya pun ambil tindakan untuk ngomong sama dia dengan satu bahasa. Dan ternyata psikolog anak yang juga teman saya menyarankan seperti itu.

Saya singkirkan dulu niatan bilingual Bahasa Inggris buat Aqsa. Saya juga tunda dulu ngajarin doa dan hafalan surat-surat berbahasa Arab. Ayahnya yang punya cita-cita agar Aqsa bisa berbahasa Jawa halus pun dipendam dulu. Yang kami gunakan adalah bahasa ibu sekaligus bahasa komunikasi mayoritas orang-orang di sekelilingnya: Bahasa Indonesia.

2. Berbicara Layaknya dengan Orang Dewasa

Saat berbicara sama Aqsa, saya dan ayahnya berbicara layaknya kita berbicara dengan orang dewasa. Kayak contohnya saya selalu memilih menggunakan kata ´terima kasih´ dibandingkan ´makacih´. Saya juga nggak pernah mencadel-cadelkan kata-kata atau mengucapkan kata-kata sesuai apa yang Aqsa ucapkan, misalnya: ´susu´ ya akan saya ucapkan ´susu´ bukan ´cucu´, biar dia nggak salah tangkap.

Baca Juga:   Menjadi Orang Cadel Itu Tidak Mudah

Kata-kata atau kalimat yang kami pakai biasanya agak sedikit baku. Kayak saya terbiasa buat bilang ¨Aqsa, ibu minta tolong untuk ambilkan air di dapur, ya¨ daripada ¨Tolong, ambilin air, donk!¨ juga semata agar Aqsa bisa ngomong dalam kalimat yang panjang atau menggunakan banyak kata.

Efeknya, kini kalimat-kalimat yang Aqsa pakai memang jadi agak formal atau baku tapi efeknya dia jadi bisa ngomong banyak kata dalam satu kalimat. Kalimat yang keluar dari mulutnya pun jadi lebih halus khususnya kalau bilang kalimat perintah.

3. Jauhkan Gadget

Emang benar sih kalau anak-anak yang terbiasa menghabiskan banyak waktu di depan gadget bisa menyebabkan speech delay apalagi yang nggak didampingi sama orang tua. Ya karena tontonan yang ada di gadget sifatnya hanya searah, bukan interaksi. Akibatnya, anak hanya mendengar dan menyerap informasi tetapi tidak meresponnya.

Makanya, saya lebih baik menjauhkan Aqsa dari gadget dan memilih ngobrol langsung sama dia. Ngobrolin apa aja entah itu sekadar nanya, cerita, atau apapun itu. Kalau nggak direspon juga nggak apa-apa, yang penting ulangi terus aja biar merangsang dia buat merespon dan berkomunikasi. Kalaupun pahit-pahitnya harus pakai gadget, ya dampingi dia. Pas nonton misalnya, biasanya habis itu saya tanyakan soal tontonannya, apa yang dia tonton, ada apa aja, atau kalau ada nyanyian ya saya ulangi nyanyi dan ajak dia nyanyi bersama.

4. Bacakan Buku

Saya orang yang merasakan banget manfaat buku dan membacakan buku buat anak. Bahkan, dari hamil pun saya udah beli-beli buku dan membacakannya buat Aqsa yang masih di perut. Pas udah lahir dan dalam masa tumbuh kembangnya ya saya bacakan terus. Hasilnya emang selain kosakatanya jadi makin banyak, kemajuan dia dalam berkomunikasi pun terasa banget. Bahkan sekarang, dia bisa ngomong kalimat panjang dan hafal luar kepala cerita dalam buku-buku yang sering dibacakannya.

Baca Juga:   Nostalgia, Yuk! Ini Dia 6 Tipe Buku Paket Sekolah Turun-Temurun yang Sering Ditemui

Kalau lagi bacain buku, saya dan ayahnya pun nggak bacain hanya bacain thok. Cara baca buku kami bisa dibilang ´lebay´. Apalagi saya, hahaha. Biasanya, kami bacakan denagn suara yang cukup kencang, intonasi yang naik turun disesuaikan dengan cerita, dan artikulasi yang jelas. Biar Aqsa juga tahu kata-katanya.

Trus kalau saya biasanya saya kasih tambahan nyanyian atau ´sound effect´ ala-ala. Misalnya: kalau di cerita ada kata pelangi, biasanya setelah itu saya nyanyi lagu Pelangi. Atau cerita soal Nabi Yusuf yang dibawa ke Mesir, biasanya saya kasih lagu ala-ala yang cuma ¨teng…teng…teng…teng…teng…teng…¨. Trus Aqsa jadi nanya ¨Ibu, nyanyi apa?¨ dan saya jawab ¨Ayat-Ayat Cinta, Sa. Kan di Mesir¨. Jadi sekalian interaktif.

5. Ajak Dia Bernyanyi

Selain mengajaknya bernyanyi saat membaca buku, saya juga ajak Aqsa buat bernyanyi sendiri. Misalnya, saat melihat sesuatu di sekitar biasanya saya spontan langsung nyanyi dan lakukan berulang-ulang biar dia hafal.

dari lihat kelinci aja bisa menyanyi bersama beberapa lagu

Dulu, awalnya dia paling cuma bisa menirukan huruf vokal akhirnya. Misalnya saya nyanyi ¨Pelangi-pelangi, alangkah indahmu¨ dia hanya niruin ¨u…¨. Kalau udah gitu, biasanya saya koreksi dengan menyebutkan kata ¨INDAHMU¨ di depan dia dengan artikulasi yang jelas. Dan lama-lama dia bisa.

Kalau sudah mulai bisa, saya ajak dia bernyanyi bareng. Misalnya saya nyanyi lagu ¨Pelangi-pelangi…¨ dia bagian ¨alangkah indahmu¨ dan seterusnya. Lama-lama, kosakatanya juga jadi banyak dan enaknya lagi jadi kayak lagi duet aja gitu pas nyanyi sama anak.

6. Sering-Sering Pancing Berbicara

Biasanya saya memancing Aqsa bicara setelah dia main sama temannya, malam hari, setelah dia lihat sesuatu, atau bahkan setelah nonton di hape. Biasanya saya tanyain banyak hal ke dia. Tanya apa saja, apa yang dia tonton, gimana jalan ceritanya, siapa yang ada di dalamnya, dia main sama siapa hari ini, main apa, gimana perasaannya, dll. Pokoknya, saya suka sekali nanya sama Aqsa. Imbasnya, sekarang dia suka ´balas dendam´ sama saya dan suami dengan nanya muluk. Nanya apa aja yang dia lihat sampai sedetail-detailnya.

Sering-sering memancing Aqsa bicara dengan menanyai dia juga dengan tujuan biar dia bisa mengungkapkan perasaan dan bercerita panjang lebar. Sekarang, emang efeknya terasa banget sih dia bisa cerita banyak hal. Kalau ditanya dan dia nggak tahu atau lagi malas jawab, dengan gemasnya dia akan bilang ¨Wah, Aqsa ndak tau ya¨.

7. Menggunakan Flashcard

Flash card ini optional sih. Nggak harus beli yang mahal karena bikin atau ngeprint sendiri pun bisa. Apalagi sekarang udah banyak banget printable-printable gratisan yang bisa dimanfaatkan.

Walaupun flash card ini optional, tapi buat saya berguna banget buat ngajarin Aqsa ngomong dan mengenal kata. Saya punya flashcard nama hewan, benda, huruf angka, serta buah (yang sekarang sebagian besar di antaranya udah wassalam karena hilang, sobek, kena muntahan, dll).

Mengenalkan kata-kata lewat flash card juga lebih mudah apalagi kalau anaknya visual banget kayak Aqsa. Dia lihat gambar bendanya yang berwarna-warni, udah merangsang keingintahuannya. Saya pun mengenalkan satu per satu kata yang ada di flash cardnya. Selain buat mengenalkan kata, flash card juga berfungsi buat mengenalkan kata dalam Bahasa Inggris dan juga tebak-tebakan kalau lagi main bareng. Aqsa kalau udah disuruh nyari teka-teki pakai flash card langsung anteng konsentrasi deh.

8. Bermain Peran

Permainan ini tuh seru banget kalau dilakukan bareng anak dan bisa banget buat menstumulasi kemampuan komunikasinya. Biasanya saya main peran sama Aqsa dari yang mainnya tenang kayak jual-jualan sampai yang brutal kejar-kejaran kayak harimau-harimauan.

Pas bermain peran, saya merasa banyak berinteraksi sama anak yang mana ini tuh merangsang dia buat lebih aktif berkomunikasi. Kayak misal lagi main jual-jualan, saya tanya namanya apa yang dijual, harganya berapa, misal yang dijual buku ini gambar dicover-nya apa, dll. Pokoknya menyenangkan banget. Nggak kayak kaku lagi belajar, tapi ngalir aja gitu. Dan lama-lama karena sering bertanya, interaksi, dan komunikasi, kosakata Aqsa juga makin nambah.

Saya yakin kalau semua anak unik dan berbeda. Cara yang saya lakukan ini bisa berhasil dan bisa tidak kalau diterapkan pada orangtua dan anak-anak lainnya. Tapi buat yang sedang mengalami masalah yang sama kayak saya dulu dan masih parno buat ke tempat konsultasi secara offline, masih kelihatan gejala awalnya mengarah ke speech delay, lambat perkembangan bicaranya, atau mau mencoba dulu stimulasi di rumah, bisa banget pakai cara-cara yang saya lakukan sama suami.

Memang akan lebih capek, lebih mutar otak karena harus ngapain lagi setelah ini, lebih dituntut untuk kreatif, harus lebih telaten, dan yang pasti harus menyisihkan banyak waktu tapi kalau dilakukan semua bahkan saat anak mulai babbling, hasilnya nggak bohong kok. Saya sudah merasakannya sendiri.

Sekarang alhamdulillah perkembangan bahasa Aqsa lancar banget. Dia bisa ngobrol panjang, nyanyi, menghafal isi buku, sangat mengerti instruksi, dan bisa curhat-curhatan sama saya. Senang banget lah karena ternyata setelah anak bisa berbicara dan mengerti banyak hal, dia makin lucu. Celotehan-celotehannya kadang di luar dugaan.

Buat kalian orang tua yang masih struggling sama fase berbicara anak, semangat ya! Bisa mulai stimulasi dulu dari yang paling mudah dan menyenangkan.

 

0 Comments
Previous Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota