Ketika Merasa Terbebani dengan Hal yang Disukai

Ketika Merasa Terbebani dengan Hal yang Disukai

Saya suka menulis. Suka bangeettt…

Menulis buat saya tuh berjasa banget. Berjasa karena pernah menyelamatkan mental saya berkali-kali saat berada di titik terendah hidup karena kehilangan janin berkali-kali. Berjasa karena sejauh ini jadi hal yang bisa menghasilkan materi dan menopang beberapa kebutuhan saya baik itu sebagai sandwich generation atau saat masih membiayai adik saya kuliah.

Baca Juga:   Trauma Healing Pascakeguguran Berulang

Karena menulis, saya bisa memeluk sebuah buku yang di dalamnya ada tulisan saya sendiri walaupun itu hanya sebuah antologi.

Karena menulis, saya bisa mencicip jalan-jalan ke banyak tempat dari Belitung, Bali, Labuan Bajo, Batam, hingga Malaysia.

Karena menulis, saya bisa menyekolahkan adik saya sampai lulus kuliah D3 di universitas negeri.

Karena menulis, saya masih punya pendapatan bahkan ketika di rumah saja. Saya masih bisa produktif dan dengan lantang memberi tahu banyak orang apa pekerjaan saya saat banyak yang meremehkan karena di rumah aja.

Pokoknya saya cinta banget menulis dan menulis sudah jadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya.

Baca Juga:   Perjalanan Panjang Mengubah Duka Menjadi Karya Melalui Menulis dan Blogging

Sayangnya, akhir-akhir ini saya justru merasa terbebani dengan menulis. Menulis blog lebih tepatnya. Ketika yang saya tulis ada yang tak sesuai hati nurani. Ketika yang saya tulis harus tertarget dibaca sekian banyak orang. Ketika saya nggak bisa menulis semau saya dan harus sesuai SEO. Ketika yang saya tulis tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Rasanya sedih dan terbebani.

Sedih karena hakikat menulis sebagai healing buat saya jadi bergeser maknanya. Terbebani karena saya dituntut untuk menulis yang kadang tidak sesuai hati nurani, terburu-buru, dan malah mengaburkan informasi.

Menulis yang harusnya jadi healing buat saya malah bikin marah-marah. Pernah saya kesal sekali dengan artikel yang saya tulis dan ngetik dengan hati dongkol. Pernah juga saking marahnya, saya nggak re-check artikel yang saya tulis dan langsung publish. Alhasil bukan hanya typo di mana-mana tapi juga saya sendiri nggak bisa mencerna kalimat yang saya bikin.

Kalau bahasa anak sekarang, mengsedih banget lah.

Tapi saya udah kadung cinta menulis. Mau beralih ke kegiatan lain dan meninggalkan aktivitas yang satu ini agaknya masih berat. Tapi berkubang dengan sesuatu yang malah bikin kesal bisa jadi penyakit hati juga. Maka, saya pun take a deep breath dan mari cari cara supaya kegiatan menulis tetap bisa menyenangkan.

Tinggalkan Sejenak

Ketika udah jengah dan terbebani banget dengan kegiatan menulis yang harus sesuai SEO lah, jumlah viewers harus segini lah, jumlah kata harus segitulah, harus ada link keluar lah, atau pusing mikirin anchor text dan lain-lain yang bisa saya lakukan ya berhemti dan tinggalkan sejenak kegiatan itu.

Kalau sudah berat banget bebannya, alhasil jadi buntu ide. Mau nulis artikel original apa aja nggak tahu. Belum lagi nulis sponsored post juga bingung gimana harus memulainya. Makanya, setelah kewajiban yang harus dituntaskan sudah selesai saya memilih vakum dulu. Tinggalkan sejenak menulis blog agar bisa refresh.

Beruntungnya saya karena penghasilan menulis bukan jadi mata pencaharian utama karena masih ada suami yang menghidupi. Mungkin akan berbeda kalau treatmennya kalau saya tulang punggung keluarga atau ibu tunggal yang menjadikan menulis sebagai mata pencaharian utama.

Tapi saya tahu pasti, semua orang yang berkecimpung di dunia menulis kayak saya ini pasti ada jengahnya apalagi kalau berada di bawah tekanan pihak luar. Artinya nggak bebas mau nulis apa karena harus sesuai pakem. Kalau sudah begini, menurut saya itś okay buat vakum sejenak. Nggak perlu berminggu atau berbulan kayak saya, satu dua harian sepertinya cukup biar kepala nggak jengah sama aktivitas ini.

Baca Juga:   Obat Itu Bernama Menulis

Saatnya Mencari Kegiatan Lain

Ketika vakum juga saya nggak lantas diam atau rebahan doang. Saya cari aktivitas lain biar otak saya nggak mikir yang aneh-aneh. Saya kalau kurang kerjaan malah tetiba bisa overthinking, jadi insecure, minder, atau banyak hal lain yang jatuhnya malah merusak diri sendiri.

Saya mulai banyak nonton. Nonton drakor, drachin, atau film. Itu aja udah bikin saya refresh. Bahkan semakin ke sini saya semakin enjoy nonton dan menjadikan kegiatan ini sebagai pelarian saya alias tempat refreshing kala otak penat.

Baca Juga:   Birthcare Center, Jungkir Balik Dunia Perempuan setelah Melahirkan

Nggak harus nonton kayak saya sih, banyak kegiatan lain yang bisa jadi pelarian saat udah terbeban banget. Bisa jalan-jalan, main sama anak, ngobrol sama pasangan, minum kopi, kulineran, nyalon, atau staycation. Banyak deh. Temukan kegiatan apa yang bisa bikin kamu enjoy.

Dari Refreshing, Terbitlah Berbagai Macam Ide

Tahu nggak, karena sering banget nonton akhirnya saya jadi senang buat mereview tontonan. Bahkan saya punya blog baru yang saya khususkan buat review tontonan yaitu inireview.com. Ini nonton terniat sih jadinya haha.

Padahal bikin blognya tuh kayak impulsif gitu. Tetiba kepikiran, ngomong sama suami, dibikinin, dioprek template dan lain-lain, ulala jadi deh.

Nulis dan ngisi kontennya juga benar-benar nggak ada beban. Saya bisa menulis dengan ringan, mengeluarkan isi kepala, tanpa terbebani apapun, tanpa harus terikat sama SEO dan teman-temannya. Pokoknya healing banget deh nulis di inireview.com tuh. Double combo karena nonton film atau drama aja udah bikin refreshing, ditambah nulisnya tanpa beban. Ya udah, saya benar-benar bisa menemukan ke mana dan apa yang harus saya lakukan kalau kepala lagi penuh dan hati lagi nggak menentu.

Baca Juga:   Rebahan Produktif saat PPKM Darurat

Ini saya, bagi kalian atau sebagian ibu yang lain pasti punya cara refreshing yang lain. Seremeh apapun me time atau refreshingnya, misal sekedar scrooling hape atau main game ringan, itu sudah sangat berarti. Itulah kenapa, kita nggak boleh nge-judge me time-nya seorang ibu. Karena bisa jadi dari yang remeh atau yang terlihat ńgapain sih?´ bisa membantu buat menyegarkan pikirannya.

Pun dengan saya. Beban menulis di blog utama yaitu blog ini pasti masih ada karena blog ini adalah wajah saya dan sebisa mungkin saya menampilkan hal-hal yang baik yang sesuai dengan prinsip saya. Tapi kadang saya juga terikat kewajiban yang di dalamnya ternyata ada hal-hal yang kurang sesuai atau sreg sama saya. Well, karena sudah tahu ´escaping´-nya kalau udah begini, maka hati dan pikiran saya juga jadi lebih ringan.

Kalian yang blogger atau bekerja sesuai passion, saya yakin suatu saat juga pernah terbebani. Pernah merasa kok berat banget padahal ini pekerjaan atau hal yang saya sukai. Kalau usah gitu, boleh ikuti cara saya ini. Atau justru kalian punya cara lain yang lebih ampuh? Silakan share di kolom komentar ya!

 

 

0 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota