Pandemi entah kapan berakhir. Walaupun angka covid (alhamdulillahnya) terus menurun setelah terpaan gelombang 2, kita juga nggak boleh lengah. Nggak boleh lengah sama covid-nya, juga dengan penyakit lain yang bisa saja menyerang kita sewaktu-waktu.
Pandemi entah kapan berakhir. Walaupun angka covid (alhamdulillahnya) terus menurun setelah terpaan gelombang 2, kita juga nggak boleh lengah. Nggak boleh lengah sama covid-nya, juga dengan penyakit lain yang bisa saja menyerang kita sewaktu-waktu.
Pandemi entah kapan berakhir. Covid-19 pun semakin lama semakin dekat atau malah banyak dari kita yang sudah merasakan langsung ‘disapa’ sama virus ini. Nggak pandang bulu, dari tua, muda, anak-anak, hingga bayi pun bisa terserang corona. Pun dengan kaum ibu, baik yang sedang hamil ataupun menyusui termasuk kelompok yang rentan terkena virus ini.
Milikilah habit konstruktif yang lama-lama menjadi skill dan bisa menghasilkan uang-Dee Lestari
Itu adalah ungkapan Dee Lestari yang saya ingat betul saat Virtual Blogger Gathering bersama FWD Insurance beberapa waktu lalu. Dee Lestari bilang kalau ungkapan itu ia dapat belajar dari astronot dan narapidana yang sehari-hari bergelut dengan kejenuhan karena berada di tempat yang itu-itu saja. Relate banget kan dengan kondisi pandemi sekarang ini?
Pandemi belum kelihatan hilal ujungnya. Sekarang saya justru ngerasanya kok makin jauh dari ujung. Apalagi sejak covid-19 gelombang 2 yang akhir-akhir ini melanda. Rasa tegang dan takutnya melebihi saat awal covid-19 masuk ke Indonesia. Rasanya seperti corona semakin mendekat ke arah saya dengan menyerang circle terdekat. Alhamdulillah, sejauh ini saya dan keluarga masih sehat walafiat dan jangan sampai deh tertular virus ini.
Beberapa hari yang lalu di grup komunitas yang saya dirikan, pembicaraan soal setahun pandemi dan ternyata langsung ramai karena para member yang notabene ibu-ibu mendadak curhat. Banyak yang bilang lelah karena terus-terusan PJJ (pembelajaran jarak jauh), sering cek-cok dengan suami karena seringnya bertemu, anak yang terus-terusan pegang gadget, memendam kangen sama keluarga karena sudah nggak pulang kampung bertahun-tahun, hingga beberapa orang yang terpaksa menjual asetnya untuk hidup karena keuangan yang morat-marit setelah pandemi melanda.