Browsing Category Diary

#ootdAlaAku: Simpel Sopan

Sudah lebih dari setahun ini saya memakai hijab. Ngga pernah kebayang rasanya pake hijab. Awalnya cuma suka liat foto model atau selebgram yang berhijab terus suka coba dipraktekin, dan ternyataaa RIBET. Kerudung harus diulang-alik sana sini dan ngga bisa cepet selesai, apalagi buat saya yang dulu masih berprofesi jadi wartawan.

Awal berhijab, baju masih serampangan. Apa pun dipake yang penting nutup badan, ngga peduli ketat apa ngga. Celana jeans ketat, kemeja kadang masi tembus pandang (dan dalemnya cuma dipakein tank top ajah) sampai kerudung yang cuma disampirin aja. Apalagi dulu masih jadi wartawan dan lagi hamil pula, intinya pake baju yang cepet, simpel, dan ogah ribet.

Continue Reading
0 Comments

Keputusan Besar

Keputusan Besar

Pernah mengambil sebuah keputusan besar? Atau pernah bingung menentukan keputusan? Barangkali kemarin saya mengalami ini.

Jadi per akhir September ini saya resign dari pekerjaan saya. Iya, resign setelah empat tahun jadi reporter. Walaupun keputusan saya ini mengundang pro dan kontra (kayak kebijakan pemerintah, haha) makanya banyak yang nyinyir juga, yang pernah saya tulis di sini. Lah cuma resign kok sedih? Mungkin bagi yang pernah beberapa kali resign dan pindah kerja ke tempat lain ini adalah hal biasa. Tapi buat saya, ini ibarat pindah atau keluar rumah dan meninggalkan keluarga yang ada di dalamnya.

Continue Reading
2 Comments

Syukurku Berkahku

Syukurku Berkahku

Semenjak November 2014 lalu hidup saya jadi drama. Sayanya juga sedikit jadi drama queen. Tapi, kehilangan berkali-kali membuat saya lupa rasanya bersyukur. Kehilangan berkali-kali membuat saya tidak bisa melihat berkah kecil yang mungkin saja hal itulah sumber kebahagiaan.

November 2014 saya kehilangan Azka, anak saya yang berusia 24 minggu dalam kandungan. Betapa tidak terguncang, karena saya, dan juga suami tengah berada di puncak kebahagiaan. Ini kehamilan pertama setelah menunggu 11 bulan pernikahan melalui program hamil. Dan kala itu saya benar-benar terguncang. Harapan saya, harapan kami hilang.

Continue Reading
0 Comments

Mudik

Mudik

Ini bukan mudik pertama di hidup saya. Tapi mudik kali ini terasa berbeda. Ini mudik pertama setelah saya menikah, mudik setelah hampir empat tahun tidak merasakan hangatnya berlebaran bersama keluarga. Ini mudik pertama saya sebagai seorang istri, mudik pertama bersama suami. Ini mudik pertama juga dimana waktu mudik dibagi untuk dua keluarga.

Mudik ini sebenarnya sudah direncanakan dari jauh-jauh hari karena tiket sudah niat dipesan dari H-90. Kami memang sengaja mau naik kereta, karena kemudahan akses ke rumah yang tinggal turun udah sampai rumah (karena rumah belakang stasiun). Selain itu ngga pernah kepikiran mudik via jalur darat (naik bus atau bawa mobil) mengingat pengalaman orang-orang yang butuh sampai berpuluh-puluh jam di dalam mobil. Trus ngga kepikiran juga naik pesawat karena buat sampai ke rumah harus nyambung lagi naik kereta, capek.

Continue Reading
3 Comments

Selamat Bermain di Surga, Adik

Selamat Bermain di Surga, Adik

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari untuk kuret. Hari untuk ‘melepas’ Adik. Hari untuk merelakan Adik. Segala persiapan telah kami lakukan, termasuk persiapan yang paling penting, mental.

Hari-hari menjelang kuret aku isi dengan menenangkan diri. Menulis, beristirahat, dan membaca. Menikmati ‘me time’ bersama Adik. Mempersiapkan mental. Melepas kesedihan. Mengikhlaskan segala sesuatunya.

Continue Reading
0 Comments