Posts Tagged ‘IUFD’

Nyinyir

Nyinyir

Per akhir September ini saya akan resmi resign. Resign? Iya resign dari kantor yang sekarang. Trus mau kerja dimana? Di rumah, jadi istri rumah tangga dulu sementara. Daaann mengambil keputusan buat resign tanpa ada pekerjaan pengganti itu berat. Selain saya harus memikirkan kegiatan apa yang akan dilakukan setelah di rumah nanti buar nggak bosen, tapi juga harus tutup kuping tebal muka menghadapi orang yang nyinyir.

Orang yang nyinyir itu nyebelin ya. Iya nyebelin karena rata-rata dari mereka komentar tanpa memberi solusi. Adaaa saja yang komen tentang keputusan saya. Segala sesuatu dianggap salah. Ada juga yang tanya dengan nada nyinyir. Pokoknya nyebelin. Dan akhirnya mereka ngga pernah kasih solusi atas apa yang saya alami.

Continue Reading
0 Comments

Living with Uterus Bicornis

Living with Uterus Bicornis

Dalam beberapa postingan saya sebelumnya, saya pernah menulis kalo dokter memvonis saya memiliki rahim kembar atau rahim dua rumah atau uterus bicornis. Sebenarnya vonis ini bukan baru saja dinyatakan karena hamil Adik kemarin, tapi sejak pascamelahirkan Azka, dokter menemukan bahwa rahim saya ternyata dua rumah atau ada dua.

Pas hamil Azka, dokter mungkin belum ngeh kalo saya memiliki uterus bicornis, tapi pas hamil Adik, dari awal dokter udah bilang kalo saya punya uterus bicornis dan memang agak worry. Makanya sejak awal hamil Adik, di data rekam medis saya sudah digambar dengan jelas bentuk rahim saya seperti hati. Dokter juga sudah wanti-wanti sama saya buat periksa ke spesialis fetomaternal (untuk kehamilan berisiko tinggi) nantinya pada saat usia kehamilan empat dan tujuh bulan. Tetapi ternyata takdir berkata lain, belum sapai umur delapan minggu ternyata Adik harus kembali ke Sang Maha Pencipta karena ternyata kehamilan saya blighted ovum.

Continue Reading
0 Comments

Selamat Bermain di Surga, Adik

Selamat Bermain di Surga, Adik

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari untuk kuret. Hari untuk ‘melepas’ Adik. Hari untuk merelakan Adik. Segala persiapan telah kami lakukan, termasuk persiapan yang paling penting, mental.

Hari-hari menjelang kuret aku isi dengan menenangkan diri. Menulis, beristirahat, dan membaca. Menikmati ‘me time’ bersama Adik. Mempersiapkan mental. Melepas kesedihan. Mengikhlaskan segala sesuatunya.

Continue Reading
0 Comments