#CeritaCorona: Berdamai dengan #DiRumahAja

Ketika kurang lebih sebulanan lalu sebagian para pekerja kantoran diumumkan untuk WFH (Work from Home) dalam rangka penanggulangan Covid 19, apa yang ada dalam pikiran kalian? Kalau saya begini ke suami yang notabene pekerja kantoran:

“Wow, it’s gonna be happy. Kita akan berasa kayak liburan panjang.”
“Akhirnya kita akan bisa uwel-uwelan dan rebahan tiap hari di rumah.”
“Nggak nyangka ternyata kata-kata aku dulu yang bilang kapan sih bisa bobo-boboan aja di rumah trus dapat duit bisa terwujud”

Dan ekspektasi-ekspektasi indah lainnya yang mungkin juga kalian alami.

Sehari sebelum WFH dimulai, saya antusias sekali. Sudah membayangkan mau ngapain aja di rumah. Lalu saya juga belanja bahan makanan buat stok. Saya sudah membayangkan bakalan enak banget di rumah aja apalagi ada suami juga. Soalnya selama ini saya tipikal istri yang suka ‘nggondheli’ suami saat kerja, haha. Bahkan dari zaman saya masih kerja, kalau ketemu hari libur atau tanggal merah dan bisa berlama-lama sama suami di rumah tuh rasanya surga banget.

Minggu pertama pun dilewati dengan aman, jaya, lancar, dan sentosa. Nggak ada kendala yang berarti. Paling juga saya yang harus masak ekstra banyak karena semua anggota keluarga di rumah. Tapi ketika masuk minggu-minggu selanjutnya, kenyamanan dan ekspektasi tinggi yang ditanamkan sebelumnya buyar sudah. Capek karena terus menerus bangun pagi, rutinitas sama yang berulang tiap hari, tidak ada jeda bahkan di akhir minggu sekalipun (karena biasanya kalau weekend saya bebas masak dan kami akan keluar rumah buat sekadar jalan-jalan), anak yang tenaganya malah kayak full baterai melulu karena orang tuanya di rumah semua, screen time yang lebih lama pada Aqsa, hingga puncaknya saya yang merasa cemas berlebih karena menghadapi drama GTM Aqsa di saat WFH ini.

Work from Home yang Bikin Stress

Ternyata WFH justru bikin capeknya berkali-kali lipat. Sekarang justru yang ada di pikiran saya adalah “Kapan semua ini akan berlalu?”. Sungguh, saya kangen situasi normal seperti dulu. Nggak apa-apa suami tiap hari ke kantor karena pas dia ke kantor, Aqsa siklus hidupnya jadi normal. Kalau sekarang Aqsa jadi agresif sekali apalagi kalau lihat gadget. Tapi kami juga nggak bisa serta-merta menyingkirkan gadget ini karena semua adalah senjata bekerja baik buat saya maupun ayahnya.

Selain 1×24 jam harus di rumah aja, yang bikin WFH jadi pemicu stres juga adalah karena rutinitasnya ternyata jadi beda banget. Kalau pas kondisi normal biasanya saat weekend kami akan keluar rumah, kulineran di tempat yang asyik, main di mall, atau cari spot outdoor yang seru, tapi sekarang ini nggak bisa. Kalau Senin-Jumat udah stres dengan urus anak dan ayahnya urus kerjaan, Sabtu-Minggu kami nggak bisa kemana-mana. Bahkan, rutinitas saya justru berulang, ya bangun pagi lagi, masak lagi, urus anak lagi, gitu aja terus sampai waktu tidur malam.

Untung saja (yes, Indonesia banget selalu ada untung di tengah musibah), saya punya teman-teman online yang support, saya punya teman yang juga seorang psikolog jadi bisa colongan konsultasi, saya punya komunitas yang jadi support system, dan saya (akhirnya) ikut kelas-kelas tentang mindfullness, healing, atau apapun itulah yang membuat relax pikiran.

Awalnya, saya kira apa yang saya rasakan ini lebay. Tapi ternyata nggak. Teman-teman saya pun banyak yang merasa demikian nggak peduli background-nya stay at home mom atau working mom. Semuanya merasa stuck tapi nggak bisa berbuat banyak.

Saya yang beberapa waktu lalu ikut ROOMPI Orami dengan judul “Menjaga Kesehatan Mental Keluarga Saat Social Distancing” dengan psikolog Mbak Ayank Irma ternyata bilang jadi hal yang wajar banget kok merasa stres karena memang saat social distancing ada banyak hal baru yang terjadi, banyak penyesuaian jadwal, terjadi kebosanan, ekspektasi kita terlalu tinggi akan suatu hal, kehabisan ide bermain dengan anak, anak yang entah kenapa jadi berlipat energinya, misskomunikasi dengan pasangan, dan masih banyak lagi. Hal-hal tersebut bisa menyebabkan potensi gangguan mental seperti:

Kalau dalam diri saya, saya akui penyebab stres paling dominan adalah kelelahan, kurang tidur, sama Aqsa yang nggak mau makan. Kalau tiga ini ada semua, udah deh bisa pecah. Di minggu-minggu kedua dan ketiga, penyebab ini dominan banget. Padahal di minggu pertama WFH saya masih senang-senang saja apalagi Aqsa makan lahap banget kalau makan bareng ayahnya. Sampai-sampai saya pasang ekspektasi terlalu tinggi dengan bilang “Dua minggu ayah WFH, bisa 10 kg lebih nih BB Aqsa”. Eeehh, di minggu kedua dia malah mogok makan yang bikin saya stres.

Pasang Ekspektasi Rendah Tak Selalu Berbuah Jelek

Untungnya, saya punya grup whatsapp yang isinya juga ibu-ibu beranak balita. Grup teman kostan pas zaman kuliah dulu yang support saya. Ketika puncaknya saya dilanda anxiety, ketidakpercayadirian tinggi, dan mengecap diri saya sebagai ibu yang gagal hanya karena kasih makan Aqsa dan selalu berakhir nggak habis saat WFH ini, mereka yang paling pertama menolak itu. Bukan, saya bukan ibu gagal kata mereka. Bahkan setelah melihat apa-apa saja yang saya kasih ke Aqsa hingga bagaimana jadwal makannya, semuanya masih wajar kok dan malah cenderung lebih baik dari mereka.

Itulah sebabnya, teman saya yang psikolog sampai bertanya kenapa saya sering sekali bilang lelah sampai akhirnya ketahuan deh kalau saya cemas berlebih akan suatu hal. Satu hal yang sangat saya syukuri adalah, teman-teman saya tidak men-judge saya. Mereka justru sangat mendukung. Bahkan oleh teman saya yang psikolog, untuk ‘melegakan hati’ saya, saya direkomendasikan untuk journaling setiap hari. Jadi saya mencatat apa-apa saja yang bikin saya cemas dan apa-apa saja yang bikin saya bahagia setiap hari. Yah intinya, kembali kayak nulis diary lah. Setelah satu minggu, nanti dievaluasi apa-apa saja yang dominan bikin cemas dan bahagia.

Setelah journaling, saya jadi lebih baik. Mungkin uneg-uneg yang selama ini nggak tersampaikan bisa tercurah lewat tulisan. Saya juga mulai mengurangi ekspektasi. Bahkan, di beberapa kegiatan saya lakukan dengan nol ekspektasi. Tujuannya ya biar saya nggak stres kalau tiba-tiba ekspektasi dan kenyataan ternyata beda jauh. Masalah dan juga stres (pada saya khususnya) justru biasanya datang akibat ketimpangan antara ekspektasi dan realitas ini. Gitu aja terus sampai jadi lingkaran setan.

Dulu saya sering pasang ekspektasi yang tinggi untuk segala hal. Sebagai orang yang tertarget, kalau bisa pencapaian itu harus yang tinggi bahkan dalam perkara menetapkan makan Aqsa. Saya sering berpikir, setiap kali makan harus habis. Akhirnya, setiap makan nggak habis, dilepehin atau disemburin muluk, bahkan susah buat buka mulut, saya langsung stres banget. Bawaannya pengen ngamuk atau saya sudahi dan langsung buang makanannya. Dari situlah asal mula saya stres banget dan kejadian yang seperti ini terjadi berkali-kali saat WFH. Dari sinilah awal mula cap ‘ibu gagal’ saya sematkan dalam diri saya.

Dan ternyata melakukan sesuatu dengan ekspektasi yang nggak muluk-muluk justru seringnya lebih melegakan. Contohnya: seperti pas saya mau nyuapin Aqsa, sebelumnya saya udah afirmasi di diri saya kalau “Okay, nggak apa-apa kalau makan kali ini nggak habis. Mungkin nanti makan selanjutnya akan lahap dan habis”. Amazing-nya justru karena saya pasang ekspektasi nggak muluk-muluk itu bikin lebih ikhlas, lebih ikhlas akhirnya aura yang keluar jadi happy. Saat makan dengan kondisi saya yang happy, Aqsa pun jadi lahap dan habis. Sekarang anaknya alhamdulillah sudah naik BB menyentuh angka 10 kg.

Ini pula yang akhirnya saya terapkan saat melakukan kegiatan lain. Nggak apa-apa rumah berantakan setiap hari. Nggak apa-apa nyapunya nanti sorean aja karena paginya sudah capek banget. Nggak apa-apa masak sesekali pakai bumbu instan karena berhari-hari yang lalu sudah terus-terusan masak banyak dengan bumbu racikan sendiri. Nggak apa-apa jemuran baju dilipat nanti-nanti. Dan nggak apa-apa yang lain kalau memang badan sudah merasa capek banget. Well, mungkin nanti akan ada yang komentar ‘Segitu aja udah ngeluh’. Nggak apa-apa juga karena badan setiap orang berbeda. Mungkin saya masak, ngurus anak, nyuci piring, nyapu tiap hari aja udah lemas tapi ada yang sampai angkat galon, ngajarin anak, nyikat WC tiap hari masih strong.

Ya nggak apa-apa.

Ngapain Biar Selalu Happy saat #DiRumahAja?

Melihat situasi dan kondisi sekarang yang kayaknya masih stuck sama-sama aja dari sebulan yang lalu, saya nggak mau pasang target dengan mikir “Oke, ini sebulan lagi pasti akan berlalu”. Nggak. Saya nggak mau terlalu optimis dan overpede karena nanti kalau nggak sesuai malah sakit sendiri. So, sekarang buat saya kondisi seperti ini harus dijalani dan disesuaikan gimana caranya biar tetap bisa survive. Bukannya nggak mau optimis, bukan. Tapi saya belajar dari keadaan.

#DiRumahAja mungkin bisa sampai akhir tahun. Apalagi Ramadan dan Lebaran juga sudah diperkirakan akan sepi karena sudah ada imbauan untuk tidak membuat keramaian atau mengumpulkan banyak orang. Bahkan saya dan suami sudah memutuskan tidak mudik. Jadi, sekarang adalah saat untuk terus adaptasi dengan situasi yang nggak tentu.

Stres pasti akan terus menghampiri, apapun itu pemicunya. Saya sampai ikut webinar, zoom meeting, kelas healing, atau apapun itu biar selalu tambah referensi untuk mengatasi stres. Intinya memang kenali dan kelola emosi kita serta sometime it’s okay to be not okay. Kalau buat saya, 2 hal ini yang lumayan ngaruh. Jadi, kalau bisa saya jabarkan berikut ini tips yang saya peroleh dan praktikan kala stres sudah mulai menghampiri saat #DiRumahAja:

Itu dia kisah saya soal berdamai dengan #DiRumahAja. Sampai sekarang, saya juga masih terus menyesuaikan dengan banyak hal kok buat selalu nyaman ‘terkurung’ di rumah dan nggak stres-stres amat. Ini cerita dan tips dari saya. Kalau dari kalian bagaimana? Share juga yuk di kolom komentar!