Jangan Katakan Ini pada Orang Tua yang Kehilangan Anak

Jangan Katakan Ini pada Orang Tua yang Kehilangan Anak

Melihat berita yang sedang viral akhir-akhir ini, Kang Emil yang kehilangan anak sulungnya untuk selama-lamanya, membuat memori saya mundur beberapa tahun silam. Masa-masa di mana saya juga pernah kehilangan buah hati, buah cinta yang saya dan suami nantikan.

Baca Juga:   Rabu, 5 November 2014: Azka Pergi Tanpa Pesan

Bedanya adalah Kang Emil kehilangan Eril yang hampir 23 tahun bersamanya sementara saya kehilangan anak yang sudah 6 bulan saya kandung. Dua-duanya saya yakin jadi guncangan hebat, nggak peduli di usia berapa kamu kehilangan anakmu. Bedanya adalah memori saya tentang buah hati saya adalah sebatas komunikasi dengan janin, tendangan-tendangannya di perut, atau gerakan bayi lainnya.

 

Sementara buat Kang Emil dan Bu Cinta, 23 tahun adalah waktu yang lama untuk mengukir memori. Makanya, saya maklum banget apabila mereka sedih dan amat sangat kehilangan. Tapi saya juga acung jempol atas keikhlasan mereka melepas kepergian Eril. Karena sejatinya memang anak adalah titipan. Kita nggak akan tahu sampai kapan kita dititipi dan akan diambil dengan cara apa.

Tidak ada yg mengalahkan sakit duka orang tua yang menguburkan anaknya yang pergi lebih dulu daripada mereka

Itu kata-kata yang pernah saya twitkan dan mention ke Ibu Susi Pudjiastuti ketika beliau juga kehilangan anaknya. Sehebat itu memang rasa sakitnya. Sampai-sampai nggak ada istilah bagi orang tua yang kehilangan anak karena emang sesakit itu. Ibaratnya, kalau bisa ditukar posisi pasti akan ditukar saja.

Apalagi bagi orang tua yang kehilangan anak dengan cara yang tanpa pernah mereka duga sebelumnya. Sekarang atau entah kapan, kematian itu pasti. Akan tetapi, kematian yang tiba-tiba dan tanpa diduga rasanya sangat menyesakkan.

Itu sebabnya saya nggak heran ketika meninggalnya Eril menjadi sefenomenal ini. Karena mungkin selain kebaikannya yang dulu pernah ia lakukan di dunia, rekam jejak orang tuanya yang dinilai bersih sebagai pejabat, serta keikhlasan ayah dan ibunya menerima apa yang sudah ditakdirkan, juga karena kematiannya sangat tiba-tiba. Kang Emil dan Bu Cinta pasti nggak akan nyangka nasibnya akan berubah drastis dalam satu hari itu.

Fenomena lain yang saya lihat adalah betapa masyarakat sekarang sudah sangat memvalidasi rasa sedih dari orang tua yang kehilangan anak. Kata-kata seperti ¨Jangan ganggu mereka dulu, beri privasi mereka buat bersedih¨ atau ¨Take your time, Kang Emil, untuk urus Eril beberapa hari setelah ditemukan. Insyaallah warga Jabar mengerti¨ saat Kang Emil mengajukan cuti lagi untuk mengurus kepulangan jenazah Eril, atau netizen yang marah-marah saat ada selebgram yang berfoto dengan Kang Emil padahal mukanya sembab adalah salah satu bentuk kesadaran masyarakat soal empati dan bagaimana menjaga kesehatan mental.

Hindari Kata-Kata Ini pada Orang Tua yang sedang Kehilangan Anak

Dulu saat tahun 2014 saya kehilangan Azka, kesadaran soal kesehatan mental dan memvalidasi perasaan belum sesanter sekarang. Gaung soal toxic positivity juga belum seterkenal saat ini. Sedihnya, ketika kehilangan anak saya justru menerima banyak kata-kata yang bikin semakin down. Tapi karena dulu saya belum ngerti soal kesehatan mental dan tetek-bengeknya, semuanya ya saya pendam saja.

Namun saya yakin, sampai sekarang juga masih banyak orang-orang yang nggak tahu caranya berkata-kata dan bersikap di depan orang yang kehilangan anak. Banyak yang niatnya sayang dan perhatian tapi caranya salah. Banyak yang niatnya ingin menghibur tapi jatuhnya jadi toxic.

Belajar dari pengalaman itu, sebagai orang tua yang pernah merasakan sedihnya kehilangan anak, berikut beberapa kata-kata yang harus banget dihindari saat kalian berada di depan orang tua yang sedang kehilangan anaknya:

  • Kata-kata menyalahkan

Kalau ditanya, emang ada yang ngomong nyalahin orang tua yang anaknya meninggal? Ada banget lho pas saya kehilangan anak dulu. Biasanya diawali dengan menanyakan kronologi, tapi lama-lama jadi menyudutkan dengan kalimat-kalimat begini: ¨Kok bisa sih? Kamunya kecapekan kerja kali¨ atau ¨Kamunya nggak jaga makan jangan-jangan¨.

Dulu karena lebih banyak sedihnya, saya sambil lalu aja dengerin orang yang ngomong begitu. Tapi ketika kesedihan sudah berlalu dan berubah menjadi rasa sepi atau malah ketika sendiri, ingatan saya akan kata-kata itu teramat menyakitkan. Kesannya, saya nggak bisa jagain anak. Kesannya saya yang bunuh anak saya sendiri. Padahal semuanya sudah takdir. Mau dijagain seketat apapun kalau pada akhirnya harus pergi ya pergi aja

  • Kata-kata pengandaian

Kalau bisa memutar waktu, saya pasti jadi orang pertama yang akan menjaga dan memastikan anak saya sehat dan baik-baik saja. Jadi, nggak usah bicara pengandaian di depan orang tua yang sedang kehilangan anak. Karena sejatinya, mereka punya insting untuk membuat anaknya tetap sehat walafiat kalau saja tahu apa yang akan terjadi setelahnyadi kemudian hari.

Kalimat-kalimat ¨Kalau saja ke rumah sakit lebih cepat¨ atau ¨Andai saja cepat-cepat ditolong¨ dan pengandaian-pengandaian lain bukan jadi kalimat penghiburan bagi orang tua yang kehilangan anak. Alih-alih menghibur, kalimat tersebut justru membuat pedih hati semakin dalam karena merasa menyesal telah melakukan kesalahan. Dan kengerian selanjutnya yang mungkin akan terjadi adalah ketika orang tua akan hidup dengan rasa bersalah seumur hidupnya karena seolah membiarkan anaknya meninggal.

  • Memaksa menceritakan kronologi

Saat sedih dan ditanya ¨Kok bisa? Gimana ceritanya?¨ rasanya kok sesak banget. Saat kehilangan anak, menjaga diri sendiri untuk tetap sadar sepenuhnya akan kehilangan aja susahnya minta ampun. Rasanya semuanya tuh ngawang-awang banget, kayak mimpi. Makanya pas aku lihat cuplikan berita di IG muka Bu Atalia kayak kosong saat salaman dengan orang-orang yang melayat, ya kayak begitulah. Orang tua berharapnya semua hanya mimpi buruk yang akan berlalu.

Dan untuk menceritakan kembali kejadian kehilangan pada anak apalagi kronologi jelasnya, rasanya berat banget. Kayak harus membuka luka dan membiarkan semuanya dilihat orang lain. Itulah kenapa, pas habis kehilangan anak dulu saya malas ketemu orang dan cenderung mengurung diri di rumah karena saya takut ketemu orang lain kemudian ditanya atau malah disuruh menceritakan kronologi kejadian. Rasanya pedih banget.

  • Melarang mereka bersedih

Kehilangan anak tuh momen yang sedih buangeett lho, tapi kadang masih adaaa aja orang yang bilang ¨Udah jangan sedih, ini kan udah takdir¨ atau ¨jangan sedih, tegar yuk!¨. Coba kalau yang ngomong merasakan kejadian yang sama, apakah masih mau bilang jangan sedih?

Sangat wajar kalau orang tua yang kehilangan anak bersedih atau menangis. Makanya, plis jangan ucapin kata-kata yang melarang mereka untuk bersedih. Ada baiknya malah validasi emosi dan kesedihan mereka sehingga bisa menyelesaikan emosinya dengan baik. Bukan malah melarang emosi wajar yang memang ada saat seseorang kehilangan anaknya.

  • Toxic Positivity

Orang Indonesia dikenal banget dengan kata ´untung´-nya ketika ada musibah. Tapi hati-hati, keseringan bilang ´untung´ saat ada musibah malah bikin jadi toxic positivity. Kesannya pengen mengambil hikmah positif dari suatu keadaan tapi malah menyingkirkan emosi yang sedang dirasakan. Lha gimana, namanya musibah ya musibah, sedih ya sedih, masa iya lagi sedih-sedihnya saat itu disuruh lihat sisi positifnya. Susah banget.

Kalimat-kalimat kayak: ¨Masih untung keguguran, berarti ketahuan bisa hamil¨, itu dulu sering banget saya dengar. Dulu, saya kira itu kalimat penghiburan ternyata malah menjurus pada toxic positivity.

Apa yang Harus Dilakukan?

Kalau dilihat sekilas, kok kayaknya serbasalah ya pengen menghibur atau mengucap turut berduka pada orang yang sedang kehilangan anak. Kayaknya semua kata-kata yang umum diucapkan, malah bisa jadi menyinggung mereka yang sedang berduka. Susah amat sih, kayaknya mau berempati.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Suka Duka Menaikkan Berat Badan Anak

Nggak, nggak susah kok sebenarnya. Masih ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa empati ketimbang dengan mengucapkan kata basa-basi yang bisa menyakiti hati orang lain. Nih, saya kasih tahu caranya ketika bertemu orang tua yang sedang kehilangan anaknya:

  • Tidak mengatakan apapun

Tidak mengatakan apapun adalah sesuatu yang jauh lebih mudah dilakukan, kan? Ini lebih baik daripada mengucapkan banyak kata berbusa-busa tapi malah bikin yang berduka tambah luka. Lebih baik diam dan menguatkan dengan memegang tangan, memeluk, atau menjadi sandaran bahu untuk menangis justru lebih baik karena pada waktu-waktu berduka, orang tua yang kehilangan anak merasa sangat lemah.

  • Beri ruang orang tua yang sedang berduka untuk bersedih

Selain tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa terkadang justru baik dilakukan di hadapan orang tua yang sedang berduka. Tidak melakukan apa-apa di sini tuh maksudnya kita memberi ruang pada yang berduka untuk menyelesaikan emosinya, meluapkan rasa sedihnya dengan baik.

  • Menyediakan diri saat diperlukan

Walaupun orang tua yang kehilangan anaknya rasanya pengen menyendiri terus di awal-awal, tapi ada masanya dia juga butuh seseorang untuk berbagi ketika lama-lama rasa sepi mulai menghampiri. Apalagi kalau momen sedihnya sudah hilang, biasanya akan berganti menjadi momen kesepian. Sediakanlah diri dan telinga untuk selalu ada dan siap mendengarkan bagi mereka yang baru saja melalui tragedi kehilangan anak.

Kata-kata seperti ¨Aku di sini kalau kamu butuh¨ atau ¨Kalau ada yang mau kamu ceritakan, aku siap mendengarkan¨ itu udah lebih dari cukup. Orang tua yang sedih karena kehilangan  anak, biasanya akan lebih butuh didengarkan daripada dinasihati atau dikasih petuah.

Source: instagram @ayankirma

So, berempati terhadap mereka yang kehilangan anak memang perlu tapi ada caranya. Nggak setiap niat baik yang ada di diri kita akan berakhir baik dalam penerimaan orang lain. Jangan sampai kata-kata penghiburan yang kamu ucapkan pada orang tua yang kehilangan anaknya justru semakin memperparah duka dan luka mereka.

Yuk, sama-sama belajar empati tanpa menyakiti.

 

1 Comment
Previous Post