Mengunjungi Bandung, setelah 3 Tahun Lamanya Absen

Mengunjungi Bandung, setelah 3 Tahun Lamanya Absen

Selain Purworejo, Bandung adalah salah satu kota yang biasanya setiap tahun saya kunjungi. Selain masih ada saudara dekat, keluarga besar pakde dan budhe, Bandung juga punya keterikatan secara emosi dan psikologis dengan saya yang pernah kuliah dan bekerja selama 6 tahunan lebih di sana. Jadi ketika pandemi dan akhirnya kami nggak bisa kemana-mana termasuk Bandung, rasanya sedih dan rindu banget sama kota yang satu ini.

Baca Juga:   Mengunjungi Bandung, setelah 3 Tahun Lamanya Absen
Merindu Bandung dan Menghabiskan Waktu di Taman-Taman Tematiknya”]

Ada banyak alasan kenapa kami menunda pergi ke Bandung padahal dekat banget dari Jakarta. Apa lagi kalau bukan covid alasannya. Kalau ke Bandung kami harus mampir ke tempat saudara, sementara saudara-saudara kami di Bandung banyak yang sudah sepuh dan komorbid. Jadi kami takut. Ndilalah, setiap ada rencana ke Bandung pasti adaaa aja halangannya. Yang covid mendadak tinggi lagi, keluarga Bandung lagi pada sakit, atau keluarga kami yang lagi nggak enak badan.

Begitu aja terus, sampai 3 tahun berlalu dan rasa rindu kami terlampau berat.

Akhirnya, saya sekeluarga pun memutuskan untuk ke Bandung setelah ditunda dan reschedule selama beberapa kali. Tadinya juga kami berniat ke Bandung sama ibu saya, tapi batal karena saat rencana yang pertama ibu saya sakit dan yang kedua ibu saya sibuk banyak acara. Jadi, daripada nggak jadi-nggak jadi muluk sementara kami sudah terlanjur janji sama Aqsa. Dan di akhir September 2022 ini kami pun akhirnya benar-benar jadi menginjakkan kaki di Bandung.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Merencanakan Jalan-Jalan ke Bandung bersama Bayi

Kemana Saja 3 Hari 2 Malam?

Kami sempat bingung mau kemana aja pas ke Bandung karena pengen ke banyak tempat hanya saja waktu mepet. Pilihannya adalah fokus di daerah atas (Lembang) atau di bawah alias Bandung Kota.

Aslinya, saya pengen ke Lembang karena ya di sana banyak pilihan dan destinasi baru kayak Lembang Park Zoo atau perosotan warna-warni di Floating Market. Tapi pertimbangan saya adalah malam harinya ada live IG, makanya saya butuh hotel yang wifinya stabil buat jaga-jaga sinyal provider nggak mendukung. Soalnya kadang provider saya kalau dipakai di pinggiran kota suka mood-mood-an.

Sementara suami saya pengen di daerah bawah karena malas menyetir naik dan nanjak di Lembang. Belum lagi kalau ke tempat-tempat yang nggak tahu medannya trus tanjakannya curam. Itu adalah tempat-tempat yang paling dihindari suami buat menyetir. Walaupun pada akhirnya ya semuanya diserahkan pada saya dan Aqsa.

Baca Juga:   Merayakan Cinta dengan Glamping di Trizara Resort Lembang

Sementara Aqsa? Aslinya dia belum bisa menikmati tempat wisata secara keseluruhan apalagi yang bernuansa alam. Yang dibutuhkan Aqsa adalah tempat luas yang bisa buat jalan kaki & naik sepeda atau tempat yang banyak mainannya kayak playground. Selain itu, kami juga menghindari tempat-tempat yang ada sungai atau waduknya karena khawatir sama Aqsa

Dengan banyaknya pertimbangan ini akhirnya kami memutuskan untuk keliling di daerah bawah saja alias Bandung Kota. Fokus kami adalah mencari tempat yang enak buat nongkrong dan ngumbar bocah. Jadi Aqsa bisa puas main di outdoor.

Setelah browsing sana-sini dan mencocokkan dengan tujuan-tujuan kami lainnya kayak jarak ke hotel atau tempat bude saya, akhirnya diputuskan kami ke Kiara Artha Park di hari pertama dan The Parlor di hari kedua. Kedua tempat ini nantinya akan saya tulis di artikel sendiri biar bisa lebih leluasa nulis dan bacanya.

Dua tempat yang kami pilih ini adalah tempat yang kami nilai paling pas buat Aqsa. Ya, dia suka main di outdoor dan juga tempat yang banyak permainan. Karena sudah mencari informasi banyak soal tempat ini, kami sampai bawa balance bike Aqsa biar dia bisa main di outdoor sepuasnya.

Dan benar saja. Padahal hanya 2 destinasi utama yang kami datangi buat refreshing di Bandung kali ini. Tapi segitu aja Aqsa udah senang banget dan nggak mau pulang. Maybe ke Bandung berikutnya, kami harus mencoba destinasi yang Bandung banget tapi tetap ramah anak dan nggak lupa nyobain kulinernya. Soalnya ke Bandung kemarin benar-benar lupa kulineran, euy. Saking fokusnya ke tempat yang mau dikunjungi dan cari hotel.

Baca Juga:   China Town Bandung, Wisata Kekinian bagi Penyuka Keindahan Feed Instagram

Dari Satu Hotel ke Hotel Lainnya

Selain ke destinasi ramah anak di Bandung, menginap di hotel adalah ┬┤main course┬┤ alias bisa dibilang tujuan utama buat Aqsa. Soalnya, dia itu pualiiing seneng menginap di hotel. Hotel buat Aqsa tuh yang bentuknya modern, gedungnya tinggi, punya lift, ada TV-nya, dan bisa mandi dengan air hangat di bawah shower. Sesederhana itu emang.

Baca Juga:   4 Manfaat Staycation di Hotel bagi Bayi dan Orang Tua Baru

Makanya, kalau kami bepergian sama Aqsa sekarang-sekarang ini biasanya memilih hotel yang berkonsep modern. Jarang kami memilih hotel dengan vibes jadul atau malah glamping, karena ya lagi-lagi Aqsa belum bisa menikmati vibesnya. Dia lebih suka hotel modern yang barang-barang di dalamnya bisa dia oprekin sebagai salah satu bentuk eksplorasinya.

Makanya pas ke Bandung, kami sudah punya satu hotel utama yang akan jadi tujuan yaitu Hotel Ibis Trans Studio Bandung. Letaknya nggak jauh dari Kiara Artha Park, berkonsep modern yang Aqsa suka banget, dan berada di tengah kota yang apa-apa dekat.

Review Singkat Hotel Ibis Trans Studio

Di hotel ini, wuaahhh jangan ditanya senangnya Aqsa kayak apa. Dia oprek semua hal yang ada di dalam kamar sampai kamar mandi, senang banget lihat jalanan Kota Bandung dari jendela kamar, sampai riangnya dia bisa nonton Upin Ipin sambil tiduran karena di rumah tidak ada TV. Jadi emang dia puas-puasin di hotel.

So far, menurut saya hotelnya juga enak meskipun ukuran kamar, apalagi kamar mandinya, mungil di mata saya. Hotel full amenities termasuk sandal. Di dalamnya juga lengkap, dari pemanas air sampai kulkas kecil pun ada. Jadi, saya yang bawa-bawa susu UHT udah kebuka bisa aman dimasukkan di kulkasnya.

Pelayanan juga oke banget. Kulkas di kamar saya yang bunyi dan nggak dingin, begitu dilaporkan ke resepsionis disertai dengan video langsung didatangkan teknisi dan diganti dengan kulkas lain yang berfungsi baik. Trus wifi di hotel ini juga wuzzz wuzz kencang. Saya sempat live IG pake wifi hotel dan aman sentosa.

 

Aqsa, dah lah jangan ditanya. Dia sudah pasti girang banget. Belum lagi kalau buka tutup pintu atau naik turun pakai lift, dia hobi banget deh. Hanya satu yang kurang dari Aqsa pas menginap di Ibis TSB ini yaitu kurang nafsu makan pas sarapan. Padahal makanannya enak-enak lho, dari western, sampai jajanan pasar Sunda ada.

Menunya juga beragam banget dan menurut saya not bad meskipun bukan yang terenak yang pernah saya makan di sarapan hotel. Cuma emang anaknya aja yang nggak tertarik buat sarapan. Saat di Bandung, dia malah baru nafsu makan pas di rumah budhe saya. Emang sih, masakan budhe saya emang enak dari dulu dan selera Aqsa nggak pernah bohong.

Selain itu, hotel ini juga lokasinya strategis dan ada di tengah kota. Kalau mau ke mall tinggal jalan kaki. Di kanan kirinya diapit sama minimarket, warung makanan berat, sampai jajanan kayak surabi yang dalamnya oncom ada di samping hotel.

Baca Juga:   Staycation Pertama Kali saat Pandemi di Eastparc Hotel

Hanya saja untuk ukuran hotel sebesar Ibis TSB memang nggak ada kolam renangnya. Padahal Aqsa udah rada ngarep berenang. Tapi nggak apalah. Kami sudah lumayan refreshing kok di hotel ini. Dan kalau suatu hari kami disuruh balik untuk menginap lagi di hotel ini, ayok-ayok aja.

Review Singkat Pop Hotel Festival Citylink

Sebenarnya acara menginap di hotel direncanakan cuma sehari dan selanjutnya adalah menginap di tempat budhe. Sayangnya, berhubung orang rumah di tempat budhe lagi pada sakit dan kami nggak enak kalau menginap di sana, jadilah hari kedua dadakan mencari hotel.

Kami sudah punya kandidat beberapa hotel yang ratenya lebih murah dari Ibis TSB karena emang niatnya cuma buat tidur. Dari yang berlokasi di Dago, Cicendo, sampai Pasir Kaliki. Dari yang tadinya sudah parkir di depan hotelnya tapi akhirnya batal karena ratenya naik. Soalnya waktu itu kita check in-nya kemalaman karena pulang dari Parlor yang kesorean dan masih harus ketemuan sama teman saya.

Pencarian hotel yang sudah disurvey dan diperoleh banyak kandidat ini pun buyar alias gugur karena kemalaman. Tapi kami malah dapat hotel yang harganya bersahabat dan dekat dari rumah budhe, hanya sekitar 10 menit. Yup, kami akhirnya mendarat di Pop Hotel Festival Citylink yang berada satu gedung dengan Mall Festival Citylink. Hotel ini dekat banget dengan rumah budhe saya dan berada tepat di depan mantan kantor pakde.

Dari awal, niat booking hotel ini adalah cuma untuk tidur. Kami dapat rate Rp 290.000 di jam 7 malam dan not bad untuk ukuran hotel yang didatangi hanya untuk tidur. Yup, kami sengaja emang ambil rate hotel yang tanpa sarapan karena kami emang niat mau check out secepatnya dan sarapan di rumah budhe karena masakan budhe saya emang enak.

Untuk ukuran budget hotel, Pop Hotel ini not bad kok. Hanya saja saat check ini kita harus deposit Rp 100.000 terlebih dahulu tapi nantinya dikembalikan saat check out kok. Kamarnya luas, ammenitiesnya oke walaupun nggak dikasih sandal, hanya saja kamar mandinya yang tembus pandang, wkwkwk. Untung yang nginep keluarga. Kalau fasilitas lain di luar kamar sih ya standar banget lah, standarnya hotel budget. Jadi ya emang biasa banget.

But, seorang Aqsa yang senang menginap di hotel, segini aja udah senang banget. Dia senang banget mandi di kamar mandi yang walaupun sempit dan tembus pandang tapi ada shower dan air hangatnya. Dia juga senang banget tidur dengan AC yang dingin walaupun di rumah juga sama-sama pakai AC. Untungnya, kami dapat kamar dengan 1 bed besar yang nggak terlalu tinggi. Jadi bisa tidur bertiga dan nggak khawatir Aqsa ngglundung seperti di hotel sebelumnya.

Baca Juga:   Cerita Menginap Semalam di Sofyan Inn Unisi Hotel Yogyakarta

Walaupun saluran TV di sini nggak selengkap di Ibis TSM dan TV-nya bures alias banyak semutnya, tapi Aqsa tetap senang. Dia bisa ngoprek brankas yang dijadikan seolah-olah oven roti. Trus buka-buka lemari juga. Pokoknya tetap happy walaupun nggak bisa nonton acara anak kesukaannya.

Karena emang cuma numpang tidur di hotel, kami pun check out jam 09.00. Kami ambil deposit dan titipan makanan di resepsionis (di hotel ini bisa titip makanan kalau emang mau dimasukkan ke kulkas/freezer). Dan ke rumah budhe dengan perut lapar, wkwk.

Di rumah budhe kami makan dengan lahap, terutama Aqsa. Dia yang dari kemarin makannya cenderung nggak nafsu, bisa makan sampai habis hanya dengan ikan mas goreng buatan budhe saya. Sekitar jam 16.00 kami sudah harus kembali ke Jakarta biar nggak keburu gelap di jalan. Nggak lupa, kami dioleh-olehin tahu Cibuntu seabrek-abrek dari Budhe.

Terima kasih Bandung, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di sini lagi. Kota yang pernah mengisi hidup saya selama beberapa tahun. Kota yang tetap ngangenin walaupun kini semakin macet.

 

1 Comment
Previous Post
Next Post